Berita Kotim Kalteng
Selain Karhutla, BPBD Krisis Air Bersih Juga Jadi Atensi di Kotim
El Nino yang terjadi pada musim kemarau tahun 2025 ini dapat memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur
Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Pangkan Banama Putra Bangel
TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) H Asan Sampit mengungkap bahwa terdapat potensi terjadinya El Nino pada musim kemarau pada 2025.
Jika terjadi El Nino pada musim kemarau, hal tersebut dapat memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Oleh karenanya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menyiapkan serangkaian langkah preventif.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim, Multazam menyampaikan pihaknya akan melakukan mitigasi yang difokuskan pada penanganan kekeringan.
Baca juga: Kalaksa BPBD Kotim Sebut 99.9 Persen Penyebab Karhutla di Kotawaringin Timur Ulah Manusia
Baca juga: Prediksi Kemarau Mulai Juni 2025, BPBD Kotim Mitigasi Karhutla Persiapkan Peralatan Pemadaman
Baca juga: Banjir Rob Melanda Desa Kubu Kotawaringin Barat Kalteng, Begini Penjelasan BMKG
"Terkait daerah paling rawan masih di wilayah Selatan. Selain potensi bencana karhutla, juga ada potensi bencana kekeringan," kata Multazam, Selasa (3/6/2025).
Untuk diketahui, wilayah Selatan sendiri meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut.
Menurutnya, beberapa desa di wilayah tersebut mengalami keterbatasan akses air bersih akibat intrusi air laut yang menyebabkan air tanah asin dan tidak layak konsumsi.
“Pada wilayah selatan, air bersih sangat terbatas. Intrusi air laut menjadikan air menjadi asin dan tidak bisa dikonsumsi. Di sisi lain, ini juga berdampak pada pengairan sawah,” ujarnya.
Multazam menambahkan, saat ini para petani di wilayah selatan sudah memasuki masa tanam.
Jika dihitung maju selama empat bulan, maka saat panen diperkirakan bertepatan dengan puncak musim kering.
Hal ini dikhawatirkan mengganggu produktivitas pertanian, apalagi daerah Selatan dikenal sebagai lumbung pangan lokal.
"Desa-desa yang berpotensi swasembada pangan itu berada di wilayah selatan. Kami sudah menyampaikan kondisi ini ke Dinas Pertanian dan mereka sedang merencanakan langkah antisipasi,” kata Multazam.
Dirinya berharap sinergi lintas sektor bergerak untuk mengantisipasi ketersediaan air bersih untuk masyarakat dan bagaimana membasahi atau mengaliri sawah agar target swasembada pangan tetap terpenuhi.
Musim kemarau diperkirakan terjadi mulai dasarian kedua atau pertengahan Juni 2025.
Hasil diseminasi BPBD Kotawaringin Timur dengan BMKG H Asan Sampit, kemarau diprediksi akan berdampak sekitar 4 bulan 10 hari, meski ada potensi hujan tetapi intensitasnya dan curahnya rendah.
Tiba-tiba ABK Tongkang Karya Maju Lompat ke Sungai di Kotim Kalteng, Tim SAR Lakukan Pencarian |
![]() |
---|
Anak Muda Kotim Bikin Map Kota Sampit di Roblox, Ramai Diserbu Netizen dan Bawa Cuan |
![]() |
---|
Kasus Meninggal Siswi SMA di Seruyan Kalteng, Hasil Autopsi Terungkap Murni Sengaja Akhiri Hidupnya |
![]() |
---|
Teledor Bakar Sampah Sebabkan Karhutla di Belakang Bengkel Las di Kecamatan Baamang Kotim |
![]() |
---|
Karhutla di Depan City Mall Sampit, Damkar Kotim Turunkan Personel Padamkan Lahan Semak Belukar |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.