Berita Kotim Kalteng

Bupati Sebut Sektor Perkebunan Sawit Tetap Jadi Andalan di Wilayah Kotim kalteng

Perkebunan kelapa sawit selama ini menjadi salah satu penopang utama pendapatan daerah Kotawaringin Timur.

HermanAntoniSaputra/Tribunkalteng.com
PEMKAB KOTIM - Bupati Kotim, Halikinnor saat diwawancarai oleh awak media, Sabtu (31/5/2025). 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Sejumlah tantangan dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur atau Pemkab Kotim mengenai persoalan produktivitas sawit. 

Namun, Bupati Kotim, Halikinnor menyebut sektor perkebunan sawit masih merupakan sektor andalan di daerah ini. 

Potensi itu didukung oleh lahan yang luas untuk perkebunan dan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang banyak di wilayah Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Baca juga: Perbaikan Jalan Lingkar Luar Selatan Sampit Kotim Mulai Dikerjakan, Progres Baru 20 Persen

Baca juga: Pemkab Kotim Bakal Tata Pedagang Ayam di Luar Pasar Keramat Sampit, Masih Banyak Lapak di Dalam

Baca juga: Pemkab Kotim Bakal Siapkan 2 Posko Unit Reaksi Cepat Penerangan Jalan Umum Jika Ada Laporan

Menurut Halikinnor, saat ini Indonesia menjadi salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. 

Untuk itu, pemerintah dan stakeholder terkait harus mampu bersama-sama meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan. 

"Bisa dikatakan saat ini potensi kelapa sawit di Kotim luar biasa. Kita memang menghadapi penyesuaian karena kebijakan pusat, tapi ini bukan akhir dari segalanya," katanya, Sabtu (31/5/2025). 

Justru ini saatnya, ujar Halikinnor, pihak terkait lebih memperkuat kerja sama dan meningkatkan produktivitas. 

Selain itu, dirinya juga menekankan bahwa potensi perkebunan di daerahnya sangat besar, dengan lahan yang luas untuk perkebunan dan jumlah sumber daya manusia yang cukup banyak. 

Sektor perkebunan juga dianggap sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi daerah dan perlu dikelola dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

"Perkebunan kelapa sawit selama ini menjadi salah satu penopang utama pendapatan daerah kita. Meski Dana Bagi Hasil (DBH) sempat menurun dari Rp46 miliar di tahun 2023 menjadi Rp13 miliar tahun ini," ujar Bupati Kotim

Selain potensi lahan dan SDM pihaknya juga menyadari pentingnya menjaga keberlanjutan dan inklusivitas dalam pengembangan sektor perkebunan. 

Tantangan global seperti perubahan iklim dan degradasi lahan juga harus diantisipasi agar sektor perkebunan tetap berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. 

Untuk itu, pemerintah daerah berupaya memperkuat sinergi lintas sektor dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk swasta, akademisi, dan masyarakat.

Hal tersebut untuk mengembangkan sektor perkebunan secara berkelanjutan. 

"Sinergi ini diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai tantangan yang ada dan memaksimalkan potensi yang dimiliki daerah," imbuh Halikinnor.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved