Berita Kotim Kalteng

Silat Kuntau Bangkui Salamat, Seni Beladiri Khas Dayak Sampit Kotim Kalteng Terus Dilestarikan

Kuntau Bangkui Salamat adalah kuntau berasal dari Sampit Kotim Kalteng,   rat dengan nilai budaya, filosofi hidup, dan identitas etnis Dayak

Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Sri Mariati
ISTIMEWA
DOKUMENTASI - Guru Besar Kuntau Bangkui Salamat Sampit, Sadarmansyah. S. Saun pada tahun 2013 lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Kuntau merupakan salah satu seni bela diri tradisional khas masyarakat Dayak di Kalimantan, termasuk di Kalimantan Tengah (Kalteng). 

Bela diri ini bukan sekadar teknik pertahanan diri, melainkan juga sarat dengan nilai budaya, filosofi hidup, dan identitas etnis Dayak.

Gerakan dalam Kuntau mengandalkan kelincahan, ketangkasan, serta kekuatan. 

Ciri khas tersebut membuatnya berbeda dengan silat maupun bela diri nusantara lainnya.

Salah satu aliran Kuntau yang populer di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) adalah Kuntau Bangkui Salamat

Aliran ini diwariskan secara turun-temurun dari seorang tokoh Dayak bernama Salamat Saun, yang kemudian dikenal dengan sebutan Salamat Kambe. 

Menurut Arifin, salah satu guru muda Kuntau Bangkui Salamat, sejarah panjang bela diri ini bermula sejak almarhum Salamat Saun menimba ilmu di berbagai daerah. 

Ia sempat berguru di Bukit Raya hingga Martapura, termasuk memperdalam ilmu kebatinan bersama tokoh agama setempat.

“Almarhum mulai melatih sejak 1979 sampai 1982. Setelah itu diturunkan kepada anak-anaknya Guru Sandy, Sadar Mansah atau Guru Meok, dan almarhum Pak Ambun atau Juhran. Di Sampit, mulai ramai dikenal sekitar tahun 2012,” ujar Arifin, Jumat (29/8/2025) kemarin. 

Nama Salamat Kambe sendiri memiliki kisah tersendiri. 

Julukan itu muncul ketika ia berhasil menaklukkan sosok gaib jadi-jadian di perbatasan Kapuas. Konon, makhluk tersebut kerap memangsa ternak warga.

Dengan keberanian, Salamat menunggu di kandang ternak sambil membawa mandau. 

Pertarungan berlangsung selama dua hari dua malam, hingga akhirnya ia berhasil mengalahkan makhluk tersebut dan memenggal kepalanya. Sejak itulah ia dijuluki Selamat Kambe oleh masyarakat setempat.

Seiring berkembangnya waktu, Kuntau Bangkui Salamat tetap eksis dan terus dipelajari generasi muda. Gerakan khasnya dikenal meniru perilaku hewan, khususnya beruk. 

Jurus-jurus itu kemudian disusun menjadi rangkaian latihan yang terstruktur.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved