Berita Kotim Kalteng

Silat Kuntau Bangkui Salamat, Seni Beladiri Khas Dayak Sampit Kotim Kalteng Terus Dilestarikan

Kuntau Bangkui Salamat adalah kuntau berasal dari Sampit Kotim Kalteng,   rat dengan nilai budaya, filosofi hidup, dan identitas etnis Dayak

Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Sri Mariati
ISTIMEWA
DOKUMENTASI - Guru Besar Kuntau Bangkui Salamat Sampit, Sadarmansyah. S. Saun pada tahun 2013 lalu. 

“Kalau untuk tahap bunga, biasanya butuh waktu sekitar tiga bulan. Bahkan ada yang bisa dikuasai dalam 10 hari jika benar-benar tekun. Untuk menamatkan seluruh tingkatan, maksimal tiga tahun,” jelas Arifin.

Tak hanya gerakan, Kuntau Bangkui Salamat juga mengandung aturan adat yang ketat. Setiap murid diwajibkan menjaga nama baik perguruan. 

Jika melanggar, sanksi adat hingga dikeluarkan dari perguruan bisa diberlakukan.

“Kalau ada yang memakai ilmu untuk menyakiti orang, bisa kita sidang adat. Kalau fatal, dikeluarkan, atribut ditarik. Kalau lebih berat, bisa dijatuhi sanksi hukum adat atau jipen. Tapi syukurnya sampai sekarang belum ada kasus seperti itu,” kata Jaka Triadi, Wakil Ketua Umum Bangkui Kuntau Salamat Kotim.

Meski bernama sama dengan Kuntau di daerah lain, Jaka menegaskan gerakannya berbeda. 

Setiap guru memiliki ciri khas masing-masing sehingga tidak ada aliran yang benar-benar serupa.


Hingga kini, minat anak muda mempelajari Kuntau Bangkui Salamat cukup tinggi. 

Dari sekitar 2.000 anggota, 70 persennya berasal dari kalangan anak muda, sementara 30 persen sisanya adalah orang dewasa maupun mantan murid lama yang kembali berlatih.

“Bahkan anak-anak SD, SMP, SMA hingga orang tua antusias. Mereka ingin menjaga budaya leluhur,” ungkapnya.

Meski terbuka untuk siapa saja, perguruan ini memiliki batasan. Jaka menyebutkan, murid dari berbagai suku bisa diterima selama menjaga marwah perguruan. 


Namun, khusus untuk suku tertentu, seperti Madura, pihaknya tidak membuka penerimaan.

Dalam perjalanannya, perguruan ini menghadapi tantangan besar. 

Hingga kini mereka belum memiliki sanggar resmi untuk tempat latihan. Para murid masih mengandalkan halaman rumah pelatih sebagai tempat berkumpul.

“Kami berharap pemerintah Kotim bisa membantu menyediakan sanggar dan perlengkapan, termasuk alat musik tradisional, pakaian adat, serta matras untuk latihan. Itu penting agar perguruan ini bisa berkembang,” tutur Jaka.

Selain menjaga budaya, organisasi ini juga ingin mengangkat derajat seni bela diri khas Dayak di tingkat daerah maupun nasional. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved