Berita Kotim
Gelombang Tinggi Pasokan Ikan Berkurang, Harga Ikan Laut di Pasar Tradisional Sampit Merangkak Naik
Harga ikan laut di Pasar Tradisional Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur merangkak naik, akibat pasokan berkurang akibat gelombang tinggi.
Penulis: Devita Maulina | Editor: Fathurahman
TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Harga ikan laut di Pasar Tradisional Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur merangkak naik, akibat pasokan berkurang akibat gelombang tinggi.
Pantauan harga ikan laut di Pasar Tradisional Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merangkak naik sejak sepekan terakhir.
Kondisi ini harga ikan laut di Pasar Tradisional Sampit tersebut merangkak naik, dikarenakan adanya gelombang tinggi yang membuat para nelayan tidak dapat mencari ikan di laut.
Hal tersebut diakui oleh salah seorang pedagang ikan di Pusat Ikan Mentaya atau PIM Sampit, Asep Iwan, Jumat (25/08/2023).
Baca juga: Gempa Terkini Magnitudo 5,0 SR, Jumat 25 Agustus 2023 Mengguncang Barat Laut Maluku Tenggara Barat
Baca juga: Terowongan Nur Mentaya Sampit Kerap Jadi Tempat Balap Liar, 7 Kendaraan Berknalpot Brong Diamankan
Baca juga: Dampak Kemarau, Sungai Mentaya Sampit Surut PT Pelni Lakukan Penyesuaian Rute KM Kelimutu
Selain harganya yang bertambah mahal, ia menyebutkan bahwa pasokan ikan dari nelayan lokal pun berkurang.
“Kabarnya karena gelombang tinggi, jadi nelayan sulit untuk melaut. Pasokan ikan pun berkurang dan otomatis harga naik,” ucapnya.
Kenaikan harga ini berkisar Rp 5000 sampai Rp 8000 dari harga sebelumnya. Beberapa jenis ikan yang mengalami kenaikan harga tersebut antara lain, ikan tongkol putih dari Rp 40 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram, ikan gembung dari Rp 40 ribu menjadi Rp 45 ribu - Rp 48 ribu per kilogram, dan ikan tenggiri dari Rp 70 ribu menjadi Rp 75 ribu per kilogram.
Tak hanya mengalami kenaikan harga, stok beberapa jenis ikan laut bahkan sudah habis, seperti kakap merah.
Lanjutnya, kenaikan harga tersebut hanya berdampak pada ikan laut, sedangkan ikan air tawar masih normal karena sudah banyak pembudidaya ikan tawar di Kotim.
Seperti ikan patin di harga Rp 28 ribu - Rp 33 ribu dan ikan nila Rp 38 ribu - Rp 40 ribu, tergantung kondisi ikannya.
Jika masih hidup atau segar harganya otomatis lebih mahal dibanding ikan yang sudah mati.
“Sebenarnya selain dari nelayan, ada juga pasokan ikan dari luar daerah. Seperti, Kuala Pembuang dan Banjarmasin. Tapi harganya juga mahal, karena biaya transportasinya tinggi,” ujarnya.
Asep menambahkan, gelombang tinggi ini tidak hanya berdampak pada harga ikan tapi juga jumlah pembeli.
Karena, mayoritas pembeli di Pasar Ikan Mentaya atau PIM Sampit berasal dari awak atau kru kapal yang berlabuh di Kotim dan pekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Karena adanya gelombang kapal-kapal jadi tidak bisa masuk ke Kotim, sementara untuk pekerja perkebunan biasanya hanya sesekali turun ke Kota Sampit untuk berbelanja.
Pasar Tradisional Sampit
Tribunkalteng.com
berita tribunkalteng
Harga Ikan Laut
Pasar Ikan Mentaya atau IM Sampit
ABK asal Pemalang Jateng yang Hilang Akhirnya Ditemukan di Sungai Kampung Teluk Tewah Kotim |
![]() |
---|
Tren Sepeda Listrik di Kalangan Anak di Kotim Dinilai Berbahaya, Satlantas Ingatkan Orang Tua |
![]() |
---|
Drainase di Jalan Desmon Ali Sampit Kotim Tersumbat Sampah Plastik, Bau Menyengat |
![]() |
---|
Ibu dan Anak di Sampit Dikabarkan Kelaparan, Pemkab Kotim Turun Tangan |
![]() |
---|
Kabar Duka, Makam Ayah dan Anak Berdampingan Pasca Kecelakaan di Samuda Kotim Kalteng |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.