Berita Kotim Kalteng

Viral Kemunculan Buaya Malam Hari di Desa Basirih Hulu Kotim, BKSDA Sampit Beber Alasannya

Warga warga Desa Basirih Hulu, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dibuat resah kemunculan buaya pada malam hari

|
Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Sri Mariati
ISTIMEWA
KEMUNCULAN BUAYA - Ilustrasi, buaya muara sepanjang 1,5 meter saat menyantap makanan yang diberikan okeh warga. Terjadi di Desa Basirih Kotim Kalteng belum lama ini. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Resah kini sedang menghinggapi warga warga Desa Basirih Hulu, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. 

Sebab, di sungai yang ada di desa itu ada terdapat buaya yang belakangan kerap memperlihatkan dirinya.

Terbaru, buaya itu muncul di saat seorang warga tidak sengaja melihat keberadaan buaya tersebut.

Videonya pun viral di media sosial dan aplikasi perpesanan.

Mengenai kemunculan buaya itu dibenarkan oleh Komanda Jaga BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, saat dikonfirmasi, Jumat (20/6/2025). 

Dari informasi yang didapatkan di lapangan, Muriansyah mengatakan kemunculan buaya berwarna kecoklatan itu terjadi saat malam hari. 

"Iya benar (kemunculan buaya, red) dan dari video yang didapat, buaya itu sendiri berjenis buaya muara yang berukuran besar," kata Muriansyah. 

Menurutnya, diduga kuat kemunculan buaya tersebut dikarenakan sedang mencari makanan. 

"Kemunculannya itu pasti ada yang didatangi sehingga buaya naik ke tepi sungai, bisa ternak dan mungkin juga ada bangkai binatang yang menarik perhatian hewan reptil itu," ungkapnya. 

Menurutnya, fenomena buaya yang tiba-tiba muncul di wilayah yang sebelumnya aman dari penampakan buaya, umumnya disebabkan oleh beberapa faktor krusial.

“Kemunculan buaya di wilayah yang sebelumnya tidak pernah terlihat, biasanya disebabkan faktor habitat sebelumnya sudah rusak,” jelasnya. 

Hal tersebut juga membuat hewan berdarah panas itu berpindah tempat ke kawasan yang menurut satwa ini masih bagus. 

Kondisi ini memaksa buaya mencari lingkungan baru yang lebih kondusif.

Oleh karena itu, dia mengimbau warga untuk ekstra hati-hati saat beraktivitas di sekitar perairan, seperti mencari ikan.

“Buaya sejatinya juga takut dengan manusia, namun bila dalam kondisi “terpojok” karena lapar atau faktor lain, bisa saja mereka menyerang karena manusia bukanlah target makanan utamanya," tegasnya.

Dia mengungkapkan, faktor selanjutnya adalah kelangkaan sumber makanan alami buaya di habitat asalnya. 

“Dikarenakan makanan mereka juga sudah sangat jarang, seperti ikan, monyet, bekantan, bahkan babi hutan pun susah mereka temukan,” ungkapnya. 

Akibatnya, buaya beralih ke kawasan yang secara naluriah mereka anggap masih banyak terdapat makanan melimpah. 

Baca juga: Bangkai Anak Buaya di Seranau Kotim Kalteng Bikin Geger, Warga Mengaku Khawatir Ada Buaya Lain

Baca juga: Serangan Buaya 53 Kali Menimpa Warga Kotim Kalteng Sejak 2010, Ada 8 Korban Meninggal Dunia

Selain itu, ia juga menyoroti adanya persaingan dalam rantai makanan di antara buaya itu sendiri. 

“Sudah terjadi persaingan dalam rantai makanan antarmereka, sehingga yang lemah mesti mengalah keluar dari habitat awalnya," ucapnya.

Kondisi ini bisa jadi merupakan dampak lanjutan dari kerusakan habitat dan kelangkaan makanan. 

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved