Ancaman KKB Papua Tembak Pilot Susi Air Justru Blunder, Mudahkan TNI Gelar Operasi Militer

KKB Papua mengancam menembak mati pilot Susi Air, Philips Mark Methrtens yang sudah mereka sandera selama 3 bulan

Editor: Dwi Sudarlan
ISTIMEWA
Pilot Susi Air Philip Mehrtens yang masih disandera oleh anggota KKB Papua pimpinan Egianus Kogoya. Terakhir ada ancaman dia ditembak bila tebusan tidak dipenuhi. 

Kapuspen mengatakan saat ini aparat TNI-Polri masih mengedepankan pendekatan soft approach dalam operasi pencarian Philips.

Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri juga mengatakan pihaknya tetap membangun komunikasi dengan keluarga Egianus Kogoya (pemimpin KKB Papua yang menyandera pilot Susi Air).

Tujuannya, pihak keluarga menyampaikan kepada Egianus Kogoya untuk dapat menahan emosi dan bisa berkomunikasi dengan aparat keamanan.

Selain itu, Kapolda meminta penjabat Bupati Nduga untuk membantu membebaskan sandera dari tawanan KKB pimpinan Egianus Kogoya.

"Penjabat Bupati Nduga yang baru dilantik diharapkan dapat membangun komunikasi secara aktif agar kelompok Egianus tidak lagi menuntut hal-hal yang diberikan negara," kata Mathius Fakhiri.

Sementara Panglima TNI Laksamana Yudo Margono mengatakan bahwa batas waktu negosiasi tidak bisa ditentukan.

Ia memerintahkan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Agus Suhardi untuk terus melakukan negosiasi.

“Ya tenggat waktunya enggak bisa tentukan, yang jelas saya sampaikan kepada Pak Pangkogabwilhan III maupun Pak Pangdam untuk terus melaksanakan negosiasi, mendahulukan para tokoh agama, tokoh masyarakat yang saat ini dijalankan oleh Pak Pj Bupati Nduga, ya kita tunggu saja,” kata Yudo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (30/6/2023).

Dia menegaskan pemerintah masih mendahulukan negosiasi yang dilakukan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Menurut Panglima, pemerintah tidak menginginkan proses penyelesaian ini menggunakan jalur kekerasan. “Ya kita tidak mau berhadap dengan tadi, kekerasan senjata karena nanti dampaknya pasti pada masyarakat, sehingga kita tempuh jalan tokoh agama dan tokoh masyarakat yang untuk melaksanakan negosiasi,” tutur Yudo. (*)

 

 

 

( Kompas.com

 

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved