Berita Kobar

Kampung Cina Bantaran Sungai Arut Kobar, Jadi Sejarah Perkembangan Tionghoa di Pangkalan Bun

Rumah panggung masyarakat di bantaran Sungai Arut tampak menjulang tinggi di atas permukaan air sungai,termasuk bangunan di Kampung Cina.

Penulis: Danang Ristiantoro | Editor: Fathurahman
(Tribunkalteng.com / Danang Ristiantoro)
Kampung Cina di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. 

TRIBUNKALTENG.COM, PANGKALAN BUN - Hujan jarang turun ditambah cuaca terik beberapa hari terakhir di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, membuat debit air Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut mulai surut.

Tiang - tiang rumah panggung masyarakat dibantaran Sungai Arut tampak menjulang tinggi diatas permukaan air sungai.

Termasuk bangunan di Kampung Cina yang berada di Rt 1 Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan.

Dari seberang, kampung Pecinan yang sudah berdiri sejak tahun 905 Masehi pada zaman Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit tersebut, berdiri rumah - rumah dengan ukuran yang besar dan kokoh dibandingkan rumah warga sekitar.

Namun, saat ketika dilihat dari dekat, sebagian rumah - rumah tersebut kondisinya sudah tidak terawat lagi. Bangunan yang terbuat dari kayu itu banyak yang lapuk termakan usia, ditambah lagi sudah terawat karena ditinggalkan oleh pemiliknya.

Baca juga: Jelang Imlek dan Cap Gomeh di Kalbar, Dibangun Replika Kampung Tionghoa di Stadion Kridasana

Baca juga: NEWS VIDEO, Bakal Ada Pertunjukan Barongsai Meriahkan Perayaan Imlek 2023 di Palangkaraya

Baca juga: 2 Tahun Dibatasi Pandemi, Perayaan Imlek 2023 di Palangkaraya Meriah, Ada Pertunjukan Barongsai

Akses jalan yang sulit dan perkembangan masyarakat, membuat keturunan Tiong Hoa ini satu persatu meninggalkan kampung Cina dan memilih tinggal di daratan.

Disamping itu juga, mereka lebih banyak aktifitas di pertokoan yang ada di kawasan Pasar Indra Kencana dan juga jalan Pangeran Antasari Pangkalan Bun.

Saat ini, warga yang tinggal di Kampung Cina tidak ada lagi yang berstatus warga negara asing (WNA) semua sudah WNI dan kelahiran Indonesia.

Sebagian besar merupakan orang Cina yang datang dari luar wilayah Kobar, seperti Pontianak, Kalimantan Barat dan Surabaya.

Diceritakan oleh Gheni Santo atau biasa dikenal Koh Titi bahwa saat ini tinggal beberapa orang saja yang keturunan orang Cina tinggal di Kampung Cina, sebagian besar sudah pindah.

"Sudah jarang yang tinggal disitu (Kampung Cina), hanya ada beberapa dan itupun sebagian besar juga pendatang atau sanak keluarga dari orang Cina yang dulu tinggal di Kampung Cina itu," kata Koh Titi, saat ditemui di toko Spare Part Diesel Naga Jaya, Kamis (19/1/2023).

Banyak faktor kenapa orang Cina meninggalkan kampung tersebut, pertama karena usahanya tidak di tepi arut, kemudian jalannya yang rusak.

"Orang - orang Cina yang sudah sukses mereka memilih membangun rumah di seputaran dalam Kota Pangkalan Bun, jadi mobil mudah keluar masuk. Kalau di seberang harus naik turun tangga dan menyeberang pakai kelotok," tuturnya.

Dengan banyaknya orang Cina yang pindah dari Kampung Cina tersebut, maka kegiatan Imlek juga secara perlahan tidak semeriah waktu orang Cina masih bermukim di situ. Bahkan, nyaris tidak ada kegiatan dan lebih fokus di tempat ibadah atau Kelenteng.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved