Berita Palangkaraya

58,923 Keluarga Berisiko Stunting di Kalimantan Tengah, Tertinggi di Murung Raya Mencapai 80,58

sekitar 58,923 keluarga yang berpotensi atau berisiko stunting di Kalteng, dan kabupaten tertinggi adalah Kabupaten Murung Raya capai 80,58 keluarga

Editor: Sri Mariati
Faturahman/Tribunkalteng.com
Bupati Kotim H Halikinnor dan Wakilnya Irawaty saat menggendong anak-anak yang turut serta dalam kegiatan stunting kasus identifikasi dilaksanakan dan peresmian berdirinya dapur sehat pada 33 kampung KB se Kotawaringin Timur, di Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kotim beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Kasus stunting di Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah terus menghantui seluruh wilayah. Di tahun 2021 lalu angka stunting Kalteng masih tinggi 27,4 persen masih di atas rata-rata angka nasional 24,4 persen.

Di tahun 2022 inipun akan terjadi demikian, dengan adanya sekitar 58,923 keluarga yang berpotensi atau berisiko stunting, dan kabupaten yang tertinggi adalah Kabupaten Murung Raya mencapai 80,58 keluarga.

Hal itu diungkapkan Plt Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalteng Dadi Ahmad Roswandi, beberapa waktu lalu.

“Ya siap-siap saja untuk stunting ini masih ada sekitar 58,923 keluarga yang berisiko stunting di seluruh Kalteng, dan tertinggi ada di Murung Raya,” ujarnya kepada Tribunkalteng.com.

Baca juga: Gunung Mas Peringkat Pertama Tertinggi Kasus Stunting se-Kalteng, Capai 35,9 Persen di Atas Nasional

Baca juga: Masuk 14 Besar Provinsi Angka Stunting Tinggi, Tahun 2024 Kalteng Ditarget Turun 16 Persen

Dadi Ahmad Roswandi menjelaskan, keluarga berisiko stunting masih disebabkan banyak faktor. Mulai dari pengetahuan akan bahaya stunting pada anak atau dari dalam kandungan.

Sehingga perlunya sosialisasi atau pemahaman bagi masyarakat luar akan kepedulian akan masalah gizi atau asupan makanan yang sehat bagi anak-anak.

“Karena 1.000 hari kehidupan itu adalah yang dirasa ideal dan dicanangkan untuk para ibu-ibu yang hamil agar anak tidak mengalami stunting,” bebernya.

Faktor lainnya yang juga menjadi pemicu tingginya risiko stunting terjadi di Kalimantan Tengah ni adalah, adalah masalah ekonomi.

Diketahui bersama pandemi yang terjadi hampir 2 tahun juga mempengaruhi, mulai pendapatan ekonomi keluarga atau ayah.

Yang tentunya berimbas pada kebutuhan sehari-hari atau makanan yang layak dan bergizi.

Sehingga terutama bagi anak-anak dengan makan seadanya, bahkan asupan gizi yang kurang tentu mempengaruhi kesehatan dan gizi sang anak.

Baca juga: Kotim Gencar Antisipasi Stunting, 8 Aksi Percepatan Penurunan Stunting Raih Penghargaan

Baca juga: Kasus Stunting Masih Mengintai Balita di Kalteng, Cegah Dengan Atur Jarak Kehamilan

“Ada juga perilaku atau pola pikir orang tua minimnya terkait edukasi makanan yang sehat atau asupan gizi yang seimbang untuk anaknya, termasuk calon ibu ketika mengandung,” terang Dadi.

Sehingga upaya pemerintah daerah dan kolaborasi dengan lintas lembaga sangat penting dalam penanganan stunting di Kalimantan Tengah.

Dengan melibatkan mulai dari tingkat bawah diantaranya penyuluh, bidan, tenaga kesehatan lainnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved