Berita Kobar
Pengidap HIV-AIDS Kobar Meningkat, 15 Persen Penderita Adalah Kelompok Homo Seksual
Pengidap HIV-AIDS Kobar Meningkat terlihat dari data tahun 2019 ditemukan 79 kasus meningkat hingga tahun 2022 menjadi 144 kasus.
Penulis: Danang Ristiantoro | Editor: Fathurahman
TRIBUNKALTENG.COM, PANGKALAN BUN - Pengidap HIV-AIDS Kobar Meningkat,terlihat dari data tahun 2019 ditemukan 79 kasus meningkat hingga tahun 2022 menjadi 144 kasus.
Dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), disampaikan bahwa kasus orang pengidap HIV-AIDS di Kobar alami peningkatan, Senin (14/11/2022).
Tercatat pada tahun 2019 ditemukan 79 kasus, dan angka itu terus meningkat, hingga di tahun 2022, tercatat menjadi 144 kasus.
Dari jumlah tersebut, momo seksual atau kelompok lelaki sesama lelaki menyumbang 15,6 persen, ibu hamil 16,6 persen, waria 6,3 persen, wanita pekerja seks komersial 3,1 persen, WBP 6,3 persen dan masyarakat umum 53,1 persen.
Baca juga: Pangkalan Bun Tuan Rumah Teater Kalimantan 2, Pj Bupati Anang Dirjo Sebut Jadi Kebanggaan Warga
Baca juga: Cegah Penyebaran Kasus HIV-AIDS di Kobar, KPAD Gelar Rakor Pencegahan dan Penanggulangan
Baca juga: Kunjungan Kajati di Kobar, Pj Bupati Anang Dirjo Berharap Kerjasama Antar Dua Lembaga Terjaga
Baca juga: Beraksi Saat Pemilik Salat, Pria Ini Terekam CCTV Diduga Curi Ranmor Warga Murjani Palangkaraya
Usai mengikuti rapat koordinasi KPA, Kepala Dinas Kesehatan Achmad Rois menyampaikan bahwa, pendataan terkait persentase kasus HIV berdasarkan kelompok risiko telah dilakukan.
Dan memang, ada kelompok - kelompok yang memiliki resiko penularan tertinggi.
"Memang pada awal epidemi ada kelompok-kelompok yang menonjol reesiko tinggi mengidap HIV/AIDS, seperti PSK, waria, LSL (Lelaki Suka Lelaki)," ujarnya.
Saat disinggung terkait Homo Seksual dalam pandangan kesehatan, Achmad Rois menjelaskan, jika homoseksual termasuk perilaku menyimpang.
"Itu faktor risiko masalah kesehatan. Itu tidak sehat. Sehat itu kan sehat fisik, sehat mental, sehat sosial dan produktif. Kalo sudah punya perilaku itu berarti punya perilaku gak sehat," terang dia.
Namun, lanjutnya bahwa semakin ke sini tidak hanya mereka kelompok kunci atau yang memiliki resiko penuluran tinggi, tetapi kelompok lain juga memiliki risiko tinggi.
"Makanya masih perlu peningkatan sosialisasi," tuturnya.
Sebab, memungkinkan bisa saja masyarakat yang mengidap HIV/AIDS ini orang biasa atau masyarakat umum.
"Penyebaran HIV/AIDS tidak hanya melalui hubungan seksual sesama jenis, tetapi juga bisa melalui faktor lain," imbuhnya.
Baca juga: NEWS VIDEO, Peringati Hari Pahlawan di Kotim, Dibarengi Gerak Cepat Vaksinasi di Sampit
Baca juga: Dampak Banjir di Sentra Produksi, Harga Sembako di Pasar Tradisional Palangkaraya Naik
Baca juga: TPU SKIP Pangkalan Bun Ditutup, Pemkab Kobar Siapkan Lahan Baru Seluas 3 Hektare
Untuk itu, pemerintah menargetkan pada tahun 2030 sudah tidak ada lagi kasus baru HIV/AIDS, meniadakan kematian yang disebabkan AIDS dan meniadakan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.
"Maka secara nasional menghentikan epidemi AIDS pada tahun 2030, menjadi tunggu bersama," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/danang-ristroanJ.jpg)