Kotim Habaring Hurung

Lomba Tari Disbudpar Kotim, Tanamkan Kecintaan Seni & Budaya Lokal Bagi Generasi Milenial

Lomba Tari Disbudpar Kotim, pegelaran lomba tari kreasi dan topeng kreasi tersebut di halaman Museum Kayu Sampit, Jalan S.Parman, Rabu (24/8/2022). 

Penulis: Devita Maulina | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com/ Devita Maulina
Lomba Tari Disbudpar Kotim. Salah satu kelompok peserta lomba tari kreasi yang digelar Disbudpar Kotim sedang menampilkan tarian yang berjudul Lime Ba’. Tarian tersebut terinspirasi dari warna khas suku dayak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yakni Putih, Hijau, Kuning, Hitam, dan Merah. Rabu (24/8/2022). 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT -Lomba Tari Disbudpar Kotim, pegelaran lomba tari kreasi dan topeng kreasi tersebut di halaman Museum Kayu Sampit, Jalan S.Parman, Rabu (24/8/2022). 

Kegiatan itu masih dalam rangkaian acara Public Culture Museum 2022 Dinas Kebudayaan dan Pariwisatai (Disbudpar) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Bekerja sama dengan Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Museum Kayu Sampit, Public Culture Museum ini digelar untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dan HUT Museum Kayu Sampit yang ke-18 tahun 2022.

Kepala Disbudpar Kotim Hj Ellena Rosie, melalui Kepala Bidang Sejarah Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Muhammad Yusdiannur, menyebutkan acara hari ini merupakan puncak dari rangkaian Public Culture Museum yang digelar sejak akhir Juli 2022 hingga pertengahan Agustus 2022 ini.

Baca juga: Disbudpar dan Pelaku UMKM Dukung Festival UMKM, Mampu Dongkrak Perekonomian Kalteng

Baca juga: Perbaikan Jalan Lingkar Selatan Sampit, 27 PBS Kelapa Sawit Setor Dana Terkumpul Rp 1,3 M Lebih

Baca juga: Disambut Tradisi Adat Tampung Tawar, 28 Atlet UCI MTB Eliminator World Cup 2022 Tiba di Palangkaraya

“Ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari kegiatan kaum milenial terutama terkait kecintaan terhadap seni budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.

Yusdiannur  yang juga menjabat sebagai ketua panitia penyelenggara menjelaskan, kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi kepada para pencinta seni budaya, khususnya generasi milenial. Dengan memberikan wadah bagi mereka untuk tampil dan menunjukan kemampuan diri dalan seni tari maupun topeng, sehingga mereka dapat lebih mencintai seni budaya dan kearifan lokal.

Disisi lain, dengan adanya rangkaian Public Culture Museum ini juga bagian dari upaya promosi Museum Kayu Sampit sebagai salah satu aset daerah yang kurang diperhatian oleh generasi milenial.

“Tujuan kami dengan adanya acara ini adalah mengajak anak-anak muda untuk lebih mencintai kearifan lokal, terutama seni budaya yang ada di Kotim. Harapan kami mereka lebih mencintai budayanya,” lanjutnya.

Jumlah peserta lomba tari kreasi hari ini terdiri dari 13 kelompok, namun karena 1 kelompok mengundurkan diri di hari pelaksanaan maka yang tampil hanya 12 kelompok dengan jumlah 61 orang. Peserta berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan anggota sanggar tari yang ada di Kotim.

Sedangkan, untuk lomba topeng kreasi hanya diikui 2 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang.
Sementara itu, salah seorang peserta lomba dari SMA Negeri 2 Sampit, Andhini Dwi Iradati mengaku senang dengan diadakan kegiatan seperti ini.

Terlebih, selama kurang lebih 2 tahun terakhir kegiatan lomba tari yang bersifat offline semacam ini ditiadakan karena pandemi Covid-19.

“Sebagai pelaku seni kami senang mendapat wadah untuk menunjukan kemampuan kami. Dan di Sampit perlu lebih banyak wadah seperti ini, karena perlu sekali untuk melestarikan seni budaya yang ada,” tuturnya gadis belia ini.

lokmba tarianana
Lomba Tari Disbudpar Kotim, pegelaran lomba tari kreasi dan topeng kreasi tersebut di halaman Museum Kayu Sampit, Jalan S.Parman, Rabu (24/8/2022). Kegiatan tersebut masih dalam rangkaian acara Public Culture Museum 2022 Dinas Kebudayaan dan Pariwisatai (Disbudpar) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Adapun, dalam lomba kali itu Andhini bersama 5 orang temannya membawakan tarian berjudul Lime Ba’. Tarian ini terinspirasi dari 5 warna sacral bagi suku dayak di Kotim, yaitu putih yang artinya kesucian, hijau berarti kesuburan, kuning sebagai kemakmuran, hitam bermakna bela diri atau keberanian, dan merah sebagai semangat.

Kelompok tari yang berada dibawah naungan Sanggar Indang Nyaho ini berhasil menampilkan tarian yang memukau di depan para juri dengan penuh percaya diri. Padahal waktu latihan cukup singkat, hanya 2 minggu. Pasalnya, sebelumnya kelompok tari ini juga kerap mengikuti perlombaan bahkan hingga tingkat provinsi.(*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved