Berita Kalteng

Cegah Peredaran Uang Palsu, BI Kalteng Masyarakatkan Pembayaran Uang Elektronik Gunakan QRIS

Bank Indonesia terus berupaya menekan peredaran uang palsu dengan menggunakan pembayaran non tunai dengan uang elektronik menggunakan QRIS.

Editor: Fathurahman
istimewa
Yura Djalin, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Bank Indonesia terus berupaya menekan peredaran uang palsu di Bumi Tambun Bungai salah satunya dengan mempopularkan pembayaran non tunai dengan uang elektronik menggunakan QRIS.

Kepala Perwakilan Bank Kalteng, Yura Djalin,  Jumat (1/4/2022) mengungkapkan, salah satu keuntungan penggunaan uang elektronik yang antara lain melalui mekanisme QRIS, masyarakat akan terhindar dari uang palsu.

"Seluruh pencatatan dan kepemilikan uang rupiah pada akun/rekening uang elektronik tersebut tersimpan oleh Penyedia Jasa Sistem Pembayaran," terangnya.

Berdasarkan data yang ada, wilayah Kalimantan Tengah relatif sedikit ditemukannya uang palsu, sampai dengan TW-1 2022, telah ditemukan 7 lembar.

Baca juga: Bupati Kapuas Ben Brahim S Bahat dengan Forkompinda Ikut Panen Raya di Kelurahan Sei Pasah

Baca juga: Dua Pengendara Terlibat Adu Mulut di Jalan RTA Milono Palangkaraya, Jadi Tontonan Warga

Baca juga: Pemantauan Rukyatul Hilal di Palangkaraya Menggunakan Teropong Resolusi Tinggi

Apabila penggunaan QRIS digunakan secara optimal, maka masyarakat akan terhindar dari potensi menerima uang palsu dibandingkan apabila masih menggunakan transaksi secara tunai.

Bank Indonesia saat ini sedang menjalankan program CBP Rupiah, yang mengajak masyarakat untuk dapat mencintai, bangga dan memahami rupiah. 

Dalam program tersebut juga disampaikan cara mengenali keaslian uang rupiah melalui 3D (dilihat, diraba dan diterawang).

Apabila masyarakat meragukan keaslian uang rupiah yang sudah dimiliki/diterima, dapat ditanyakan kepada bank umum, untuk diteruskan kepada Bank Indonesia dan dilakukan penelitian. 

"Jangan kemudian menggunakan uang yang diragukan keasliannya tersebut untuk berbelanja  atau bertransaksi," terangnya.

Masyarakat saat bertransaksi harus memeriksa uang rupiah yang diterima dengan cara dilihat, diraba dan diterawang, karena setiap uang rupiah terdapat unsur pengaman untuk mengidentifikasi keaslian uang rupiah. (*)

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved