Kotim Habaring Hurung

Awas Demam Berdarah Tinggi, RSUD dr Murjani Sampit Kotim Tangani Puluhan Kasus pada 2025 

Kasus DBD di Kotim yang ditangani di rumah sakit untuk rawat jalan 16 kasus, sedangkan untuk rawat inap 52 kasus. 

Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Haryanto
TRIBUNKALTENG.COM/HERMAN ANTONI SAPUTRA
WAWANCARA - Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Iman saat diwawancarai TribunKalteng.com, Kamis (10/7/2025). Selama kurun waktu enam bulan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit telah menangani sebanyak 68 pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Selama kurun waktu enam bulan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit telah menangani sebanyak 68 pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Iman

Menurutnya, saat ini kasus DBD di Kotim yang ditangani di rumah sakit untuk rawat jalan 16 kasus, sedangkan untuk rawat inap 52 kasus. 

"Tidak semua pasien DBD dirujuk ke rumah sakit, namun kalau memang pasien kondisinya masih bagus sebagian dilakukan perawatan di Puskesmas", kata dr Iman, Kamis (10/7/2025). 

Baca juga: Anak Wakil Bupati Kotim Irawati Positif DBD, Ini Pesan Irawati untuk Orang Tua

DBD biasanya meningkat diantara musim peralihan dari hujan ke musim panas. 

Dimana jentik nyamuk tinggalnya lebih lama menetap di genangan air dari sebelumnya hujan dan kemudian hari berikutnya musim panas. 

"Kondisi ini yang berpotensi paling banyak untuk terpapar DBD. Tidak hanya untuk anak-anak namun juga ke orang dewasa", ujarnya 

Ia mengimbau kepada masyarakat apabila ada yang mengeluh sakit panas tiga hari namun tak kunjung turun, segera lakukan cek darah di Puskesmas terdekat untuk mengetahui terpapar DBD atau bukan. 

"Kalau memang ada yang sakit panas dan sudah minum obat tapi belum turun, kita sarankan ke Puskesmas," ujarnya 

dr Iman juga menekankan pentingnya pencegahan DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Selain itu, penting untuk memantau tempat penampungan air, memperbaiki saluran yang tidak lancar, menggunakan obat nyamuk, serta memasang kawat kasa di ventilasi rumah,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved