Berita Palangkaraya

Harga Daging Babi Naik Capai Rp 120 Ribu per Kg, Penyumbang Inflasi Kalteng Pada Juni 2022

Tingginya harga daging babi di Pasar PU, Palangkaraya, terjadi hingga kini jadi penyumbang inflasi di Kalteng dikarenakan stok hewan babi menipis

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Salah seorang pedagang daging babi bernama Eka saat menunggu pembeli di Pasar PU Palangkaraya, Senin (18/7/2022). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Tingginya harga daging babi di Pasar PU Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) terjadi hingga kini. Harga per kg Rp 120 ribu, naik dua kali lipat dari harga normal biasanya.

Gelombang flu Afrika atau African Swine Fever (ASF) telah melanda Kalteng dari akhir 2021 lalu, mengakibatkan sejumlah industri peternakan babi menjadi terganggu karena banyak ternak babi mati.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinisi Kalteng berdasarkan dua kota acuan, Palangka Raya dan Sampit, terjadi inflasi di Kalteng sebesar 0,88 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,39 pada Juni.

Salah satu penyumbang inflasi tersebut adalah daging babi, diiringi bersama cabai rawit, angkutan udara, daging babi, tomat, telur ayam ras, bawang merah, kue kering berminyak, semangka, daging ayam ras, dan sop.

Terpisah salah seorang pedagang bernama Eka, harga daging babi terus merangkak naik karena pasokan dari peternak Kota Cantik semakin menipis.

Baca juga: Akibat Wabah Virus Demam Babi Afrika Berdampak Langkanya Daging Babi di Palangkaraya

Baca juga: NEWS VIDEO, Demam Babi Afrika di Palangkaraya Merebak, Penjual Daging Babi Keluhkan Omzet Menurun

"Di Palangkaraya saat ini hanya ada beberapa ekor saja. Sehingga kita pun mengikuti harga dari peternak," ujar Eka, Senin (18/7/2022) kepada Tribunkalteng.com.

Pasokan daging babi tidak memadai di Kota Cantik Palangkaraya, dia pun kerap mengambil daging babi dari Banjarmasin dan sekitarnya seperti Basarang, Kapuas.

Pantauan Tribunkalteng.com di Pasar PU Palangkaraya terlihat ada beberapa stand penjual babi yang kosong.

Menurut keterangan Eka, hal itu juga disebabkan karena pasokan daging babi menipis.

Selain itu dampak dari daging babi mahal dan stok tipis tersebut adalah penjualan menjadi anjlok. Rata-rata dalam sehari bisa menjual 3-4 ekor, namun sekarang 1 ekor.

Baca juga: Inflasi di Kalteng Maret 2022 Capai 0,80 Persen, Operasi Pasar Diharapkan Tekan Laju Inflasi

"Biasanya kalau normal harganya Rp 60 ribu per kilogram bisa 3 sampai 4 ekor habis dalam sehari. Ini sehari 1 ekor aja sekitar 80 kg," ungkap Eka.

Hal senada juga disampaikan pedagang lain Vero. Dia berharap Pemerintah Kota Palangkaraya dapat membantu para peternak dan pedagang.

"Harapannya pemerintah dapat membantu bibit dan pencegahan virus ASF. Dengan begitu diharapkan harga daging babi kembali normal kembali," beber Vero. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved