Hari Pendidikan Nasional, Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara Pernah Diasingkan di Belanda
Fakta-fakta Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara yang ternyata pernah diasingkan di Belanda
2. Jurnalis dan Pemuda Aktif pada Masa Kolonial
Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang penulis, wartawan muda, dan tokoh yang aktif di organisasi pemuda pada masa kolonial Belanda.
Tulisan-tulisannya terkenal keras dan mengandung kritikan-kritikan pedas yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda atas tindakan yang sewenang-wenang kepada orang-orang pribumi.
Ia sempat bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.
Baca juga: 5 Polisi Surabaya Ditangkap Propam Mabes Polri Saat Pesta Narkoba
Baca juga: TKW Indonesia Mendadak Jadi Jutawan Gegara Dinikahi Duda Jenderal Arab Saudi
3. Mendirikan Taman Siswa
Ki Hadjar Dewantara sempat diasingkan di Belanda bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Ketiga tokoh yang dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai itu diasingkan karena protes dan tulisan pedas terhadap pemerintahan Hindia Belanda.
Pada masa pengasingan di Belanda, banyak pengaruh yang mendasarinya mengembangkan sistem pendidikan.
Ki Hadjar kembali ke Indonesia pada bulan September 1919 dan segera bergabung ke sekolah binaan saudaranya.
Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa.
Perguruan Taman Siswa adalah suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
4. Semboyan Tut Wuri Handayani
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya hingga kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia.
Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi 'ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani'.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira bunyinya adalah 'di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/bapak-pendidikan-nasional.jpg)