Kabar Haji

Ada Kebijakan Perlakuan 'Khusus' Bagi Jamah Haji Asal Palangkaraya, Ini Alasannya

Belum lagi adanya beberapa jamaah yang memilih meninggalkan tas berisi paspor, karena memang ingin segera pulang dan bertemu keluarga di rumah.

Ada Kebijakan Perlakuan 'Khusus' Bagi Jamah Haji Asal Palangkaraya, Ini Alasannya
Istimewa
Jamaah yang tergabung tergabung dalam Keloter 8, yakni jamaah asal Kabupaten Barito Selatan, Sukamara, Gunungmas, dan Barito Timur, tiba di Debarkasi Haji Syamsuddin Noor, Selasa (11/9/2018). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Panitia Pemberangkatan dan Pemulangan Haji Kalteng, mulai tahun ini akan memberlakukan kebijakan khusus bagi jamaah haji asal Kota Palangkara. Itu dilakukan  karena sebelumnya terjadi beberapa persoalan krusial yang dinilai justru menimbulkan kesulitan jamaah sendiri.

Kebijakan itu sendiri diputuskan setelah panitia Provinsi Kalteng menggelar pembahasan rencana pemulangan, beberapa hari sebelumnya.

"Yang jelas, untuk jamaah haji asal Kota Palangkaraya agak sedikit berbeda perlakuannya dengan jamaah dari kabupaten lain. Itu karena memang persoalan yang terjadi pada setiap kali pemulangan," jelas Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umroh Kanwil Kementerian Agama Kalteng Mohadi kepada Tribunkalteng.com.

Baca: Jamaah Haji Asal Kalteng Tiba di Palangkaraya, Satu Terpaksa Pakai Kursi Roda

Baca: Sandiaga Uno Masuk 50 Orang Terkaya Indonesia, Ini Daftarnya

Baca: Menteri Kesehatan Spanyol Mundur Gara-gara Persoalan Gelar Akademik

Beberapa kebijakan dan perlakuan 'khusus' dimaksud antara lain terkait penyerahan barang dan tas milik para jamaah haji Palangkaraya tidak lagi dilakukan oleh panitia provinsi. Melainkan diserahkan kepada panitia dari Pemko dan Kementerian Agama Kota Palangkaraya.

Itu mengingat dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak jamaah yang meminta agar barang serta tas bawaan beberapa saat setibanya di Asrama Haji. Padahal untuk itu, ada proses yang harus dilakukan.

Fenomena ini terjadi, kata Mohadi, tidak lain karena jamaah asal Palangkaraya lebih banyak memilih langsung pulang ke rumah tanpa harus melalui penyambutan dan pemulangan yang seyogianya dilakukan beberapa saat setelah mereka tiba di asrama haji.

Belum lagi adanya beberapa jamaah yang memilih meninggalkan tas berisi paspor, karena memang ingin segera pulang dan bertemu keluarga di rumah sebelum proses pemeriksaan selesai dilakukan di Debarkasi Haji Antara.

Akibatnya, petugas dibuat kesulitan. Bahkan tak justru jadi 'pemungut' tas jinjing para jamaah yang ditinggalkan.

"Pada jamaah dari daerah, mereka cenderung tetap mengikuti prosedur pemulangan, seperti penyambutan dan pengembalian dari panitia provinsi kepada pemerintah daerah tempat mereka berasal. Tapi untuk jamaah Palangkaraya, kondisi ini agak berbeda sehingga perlakuannya pun dibuat dengan kebijakan berbeda," kata Mohadi.

Meski teknis penyerahan tas jamaah diserahkan oleh panitia dari Pemko Palangkaraya, tambah dia, Panitia Provinsi tetap akan membantu. Apalagi tas itu sendiri langsung dilakukan di Asrama Haji. (TRIBUNKALTENG.COM/mustain khaitami)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help