Ensiklopedia

Malam Satu Suro Dirayakan Masyarakat Jawa dengan Meriah, Begini Sejarahnya

Sedangkan di keraton Surakarta yang melakukan arak-arakan dengan kebo bule, hewan sakral yang konon merupakan jelmaan Kyai Slamet.

Malam Satu Suro Dirayakan Masyarakat Jawa dengan Meriah, Begini Sejarahnya
intisari online
Kirab Malam Satu Suro 

TRIBUNKALTENG.COM - Malam pergantian tahun baru Islam, bagi sebagian mayarakat Jawa khususnya, dirayakan dengan tradisi yang biasa disebut dengan istilah malam satu suro.

Perayaan ini adalah ritual yang dirayakan setahun sekali oleh masyarakat Jawa, dan setiap daerah memiliki caranya masing-masing.

Tradisi semacam ini paling kental dirayakan oleh Keraton Surakarta dan Keraton Jogjakarta.

Misalnya di keraton Yogyakarta ada arak-arakan dengan membawa tumpeng mengelilingi keraton.

Baca: Harga Baru BBM Beredar di Medsos, Begini Penjelasan Pertamina

Baca: Mahasiswi IAIN Palangkaraya Juara I Silat se-Kalimantan

Baca: Belum Optimal, Alokasi Pemberdayaan dari Dana Desa di Kalteng Hanya 6 Persen

Sedangkan di keraton Surakarta yang melakukan arak-arakan dengan kebo bule, hewan sakral yang konon merupakan jelmaan Kyai Slamet.

Melihat dari sejarah dan asal-usulnya, sebenarnya tradisi ini bermula saat zaman Sultan Agung berinisiatif memperluas ajaran Islam.

Sekitar tahun 1613 hingga 1645, saat itu masyarakat Jawa lebih mengikuti penanggalan tahun Saka yang diwarisi tradisi Hindu.

Lalu untuk memadukan pemahaman masyarakat dan ajaran Islam Sultan Agung dipilihlah malam 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

Untuk itulah mengapa setiap malam 1 Suro selalu dirayakan dengan meriah oleh mayarakat Jawa.

Namun, lebih dari itu, pada malam dan bulan suro juga kental dengan nuansa mistik dan dianggap sakral, sehingga banyak pantangan yang dilarang dilakukan masyarakat Jawa.

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved