Warga Bapinang Kotim Diterkam Buaya

Pasca Serangan Buaya, BKSDA Pos Sampit Imbau Warga Waspada Beraktivitas di Sungai Mentaya Kalteng

BKSDA Pos Sampit mengimbau masyarakat berhati-hati serangan buaya saat beraktivitas di pinggir Sungai Mentaya, terlebih saat mandi atau hal lainnya

Penulis: Pangkan B | Editor: Sri Mariati
BKSDA POS SAMPIT untuk Tribunkalteng.com
EVAKUASI KORBAN - Tim SAR mengevakuasi korban tewas diterkam buaya di Sungai Mentaya Kotim, Kalteng, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Pos Sampit mengimbau masyarakat berhati-hati serangan buaya saat beraktivitas di pinggir Sungai Mentaya, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

Hal tersebut mengingat adanya terhadap seorang warga yang menjadi korban serangan seekor buaya saat sedang mandi.

Sungai-sungai ada di Kabupaten Kotawaringin Timur memang cukup terkenal masih banyak buaya yang berkeliaran.

Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah mengatakan pada perairan Sungai Mentaya terdapat dua jenis buaya.

“Pada perairan Sungai Mentaya Kotim, terdapat dua jenis buaya, yakni buaya muara dan buaya sapit atau dikenal sinyulong,” jelasnya,  Senin (7/4/2025).

Lebih lanjut, Muriansyah menjelaskan habitat buaya ada di wilayah Kecamatan Teluk Sampit, yakni di sekitar muara Sungai Mentaya.

Selain itu, terdapat beberapa daerah rawan terjadinya konflik antara buaya dan manusia di kawasan sungai.

“Konflik buaya rawan terjadi pada Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, Cempaga, dan Mentawa Baru Ketapang,” terang Komandan Pos Sampit.

Sementara itu, buaya menyerang Sani (35) saat mandi di pinggir sungai baru-baru ini, diketahui memiliki ukuran yang sangat besar.

“Dari pengamatan langsung di lapangan, panjang buaya diperkirakan sekitar 4 menter hingga 5 meter, yang mana berjenis buaya muara,” terang Muriansyah.

Bahkan dirinya mengatakan, bahwa perairan sungai wilayah Desa Hanaut, Kecamatan Seranau termasuk daerah rawan serangan buaya.

BKSDA Pos Sampit bahkan rutin memasang spanduk imbauan dan peringatan, terkait kemunculan buaya dan berhati-hari saat beraktivitas di sungai.

Pihaknya bahkan telah menghimbau masyarakat setempat untuk tidak memelihara ternak di atas atau tepi sungai.

Selain itu, tidak membuang bangkai binatang ke sungai, karena hal tersebut dapat mengundang buaya datang ke wilayah perairan desa tempat warga bermukim.

Baca juga: Operasi SAR Korban Diterkam Buaya di Kotim Ditutup, Sani Ditemukan Meninggal Berjarak TKP 1,2 Km

Baca juga: Hari Kedua Pencarian Sani Diterkam Buaya, Tim SAR Gabungan Sisir Sungai Mentaya Kotim Kalteng

Komandan Pos Sampit menjelaskan ketika habitat atau tempat tinggal buaya terganggu dan mengalami kerusakan, maka akan berdampak pula pada pakan alaminya. 

“Kerusakan habitat akan menyebabkan buaya menjadi sulit mendapat makanan, lalu buaya akan pindah untuk mencari area atau tempat baru mencari makan,” tutup Muriansyah.

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved