Berita Palangkaraya
Tanam Bunga Kaliandra dan Air Mata Pengantin Demi Pengembangan Madu Kelulut dan Apis Mallifera
Penanaman bunga kaliandra dan air mata pengantin, bisa antisipasi agar budi daya lebah madu kelulut dan apis mallifera produksi pada musim kemarau
Penulis: Lidia Wati | Editor: Sri Mariati
TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Penanaman bunga kaliandra dan air mata pengantin, dianggap bisa sebagai antisipasi agar budi daya lebah madu kelulut dan apis mallifera tetap berproduksi pada musim kemarau tiba.
Semenjak musim kemarau penghasilan budi daya lebah madu kelulut di Borneo Mallifera yang berada di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau Palangkaraya turun hingga 50 persen.
Borneo Mallifera merupakan budi daya lebah madu kelulut dan apis mallifera yang disajikan berupa madu original dan minuman.
Pengelola Budidaya Lebah Madu di Borneo Mallifera Norjati Siti Fatimah mengatakan, ini agar lebah bisa bertahan dalam kondisi cuaca seperti ini, salah satu pencegahannya yaitu dengan menanami sumber tanaman atau sumber pakan di sekitar lokasi budi daya lebah.
Menurutnya, bunga kaliandra dan Bungai air mata pengantin merupakan bunga yang sangat disukai lebah.
Baca juga: Omzet Lebah Madu Kelulut di Kalampangan Palangkaraya Juga Turun 50 Persen di Musim Kemarau
Baca juga: Gelar Festival Madu Rawa Gambut, Pembudidaya Kalteng Perlu Perhatian Pemerintah Kambangkan Usaha
Baca juga: Madu Kelulut Palangkaraya Sudah Merambah Singapura, Sekali Panen Sampai 200 Liter
"Pada umumnya lebah yang menghisap bunga Kaliandra akan menghasilkan madu dengan kualitas premium atau sangat bagus. Sehingga harganya juga relatif tinggi," ucapnya.
Menurutnya madu yang dihasilkan lebah saat musim kemarau menurun sehingga pihaknya berinisiatif untuk menanam bunga yang menjadi sumber pakannya lebah.
"Bungai air mata pengantin dan kaliandra terus lemon dia apa bunga yang tidak mengenal musim, kalau untuk apis mellifera itu kita kasih cadangan makanan lah istilahnya itu dengan madu dicampur dengan air dan juga dikasih sedikit gula supaya lebah itu tetap bisa bertahan dan tidak kabur atau tidak mati sebelumnya," sambungnya.
Ia mengungkapkan, untuk madu kelulut dipanen satu minggu sekali bisa dipanen, namun saat musim kemarau hanya satu bulan sekali, kadang lebih kalau untuk yang habis melahirkan itu biasa di panen tiga bulan sekali ini lebih bisa 4 bulan sampai 6 bulan sekali.
"Untuk kantong-kantong sekarang ada kurang lebih sekitar 50 sampai 100 ratusan gitu ya sebagian kita taruh di lokasi lain," ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/kaliandra.jpg)