Mata Lokal Memilih

Haiyah, Begini Komentar Ganjar Pranowo Diduetkan dengan Prabowo di Pilres 2024, Muhaimin Mengancam

Begini tanggapan Ganjar Prnowo soal wacana dirinya diduetkan dengan Prabowo Subianto di Pilpres 2024

Editor: Dwi Sudarlan
Kompas TV
Trio Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo tetap terkuat sebagai capres versi berbagai survei. Terbaru muncul wacana duet Prabowo-Ganjar yang membuat Muhaimin Iskandar meradang. 

TRIBUNKALTENG.COM, SOLO - Koalisi Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dikabarkan retak karena muncul wacana duet Prabowo-Ganjar di Pilpres 2024, Muhaimin Iskandar pun mengancam partainya membuat komposisi baru.

Akhir-akhir ini beredar wacana duet Prabowo-Ganjar sebagai Capres-Cawapres untuk Pilpres 2024.

Prabowo Subianto adalah ketua umum Partai Gerindra sementara Ganjar Pranowo adalah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjabat gubernur Jawa Tengah (Jateng).

Sebelum wacana Prabowo-Ganjar muncul, beredar duet Prabowo dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Baca juga: Gegara Isu Prabowo-Ganjar di Pilpres 2024 Koalisi Gerindra dan PKB Terancam, Muhaimin Ingin Capres

Baca juga: Presiden Jokowi Sebut Capres 2023 Bisa Jadi Jatah Prabowo, Survei Kembali Unggulkan Ganjar Pranowo

Baca juga: Sinyal Koalisi Pilpres 2024, Kader PKB Terus Teriakkan: Gus Muhaimin di Dadaku, Prabowo Idamanku

Apa tanggapan Ganjar Pranowo tentang wacana duetnya dengan Prabowo Subianto

"Haiyah pasangan apa, gimana-gimana apa," kata Ganjar Pranowo kepada TribunSolo.com, Jumat (25/11/2022).

Dalam banyak survei, Ganjar Pranowo mmang memiliki modal elektabilitas tinggi untuk Pilpres 2024 mendatang.

Bahkan, kerap kali dia mengungguli pesaing terkuatnya, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Sementara pengamat politik, Ray Rangkuti meyakini Gerindra akan mengambil kesempatan yang menurut mereka mendatangkan keuntungan paling besar.

"Bagi Gerindra, apa pun ceritanya partai ini harus punya capres atau cawapres karena itu salah satu cara mereka untuk menjadikan partai ini menjadi bahan perbincangan di 2024," kata Ray Rangkuti dikutip dari Kompas.com.

Ray Rangkuti mengatakan bila Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP dan Prabowo Subianto sebagai cawapresnya, mereka akan mampu mengalahkan Anies Baswedan. 

Ganjar punya peran untuk memikat suara pemilih secara luas, sedangkan Prabowo mampu mempertahankan suara pemilih loyalnya agar tidak beralih ke Anies. 

"Jadi satu yang menyerang, artinya yang ngambil banyak pemilih dalam hal ini adalah Ganjar, dan satu lagi bertahan dalam hal ini adalah Prabowo agar pemilih pemilih loyal itu nggak pindah ke Anies Baswedan," kata Ray.

Ancaman Muhaimin Iskandar

Sebelumnya, Gerindra dan PKB membuka pintu untuk berkoalisi dalam Pemilu 2024 mendatang baik Pileg maupun Pilpres 2024.

Kabar yang sempat berhembus menyebutkan duet Capres-Cawapres yang bakal diusung koalisi Gerindra-PKB adalah Prabowo Subianto (ketua umum Gerindra) berpasangan dengan Muhaimin Iskandar.

Namun, duet ini belum juga dideklarasikan karena kedua partai masih tarik ulur, bahkan kabarnya Muhaimin Iskandar berkeinginan dirinya yang menjadi Capres 2024 sesuai mandat Muktamar PKB.

Dalam kondisi tarik ulur itu, muncul wacana Gerindra akan memasangkan Prabowo Subianto dengan Gubernur Jawa Tengah yang juga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo.

Wacana duet Prabowo-Ganjar di Pilpres 2024 ini membuat kubu PKB meradang.

Muhaimin Iskandar pun menyatakan bisa saja PKB membuat komposisi (koalisi) baru.

 "Ya kalau saya nggak di situ (jadi capres atau cawapres) ya nggak usah koalisi, ngapain," kata Muhaimin Iskandar di Gedung DPR , Senayan, Jakarta, Selasa (13/9/2022).

Sebelumnya, Muhaimin Iskandar juga menegaskan belum ada finalisasi duet Capres dan Cawapres yang akan diusung koalisi Gerindra-PKB.

"Belum, kita akan duduk berdua (dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto) karena sampai detik ini masing-masing ngotot jadi capres," kata Muhaimin di kantor DPP PKB, Jakarta, Senin (21/11/2022).

Namun, Muhaimin tidak menjawab secara tegas kemungkinan PKB meninggalkan koalisinya dengan Gerindra.

"Ya kita lihat nanti," katanya.

Sementara Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam kepada Kompas.com menilai, ancaman Muhaimin Iskandar untuk membentuk komposisi baru jika Prabowo Subianto berduet dengan Ganjar Pranowo tampaknya bukan main-main.

Sejak awal, PKB punya target untuk mencalonkan ketua umumnya sebagai wakil presiden.

Harapannya, PKB mendapat limpahan elektoral atau coat-tail effect dari pencawapresan Muhaimin.

Namun, kata Umam, Prabowo tampak merasa tidak yakin dengan kekuatan politik Imin. Oleh karenanya, mantan perwira tinggi militer itu bermain dua kaki, tetap mencari sosok cawapres meski sudah deklarasi koalisi dengan PKB.

"Ibarat cinta bertepuk sebelah tangan, Cak Imin tentu tidak ingin dipermalukan. Karena itu belakangan muncul statement yang mengarah pada koreksi total dan potensi pembubaran koalisi yang layu sebelum berkembang," kata Umam, Rabu (23/11/2022).

Jika Prabowo tidak menggandeng Imin sebagai cawapres, dukungan basis pemilih Islam terhadap Ketua Umum Partai Gerindra itu diprediksi bakal menurun tajam.

Pertama, kelompok Islam konservatif sudah terlanjur kecewa dengan pilihan Gerindra masuk pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Bersamaan dengan itu, basis pemilih Nahdliyin selaku representasi dari kelompok Islam moderat tak mampu dimobilisisasi karena Prabowo tidak menggandeng Muhaimin yang dekat dengan kelompok tersebut.  (*)

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved