Berita Kotim

Dampak Banjir di Kotim, Lahan Pertanian Warga Terendam Harga Sayuran Lokal di Sampit Naik

Dampak Banjir di Kotim, mengakibatkan lahan pertanian warga terendam sehingga menyebabkan harga Sayuran Petani Lokal di Pasar Sampit Naik.

Penulis: Devita Maulina | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com / Devita Maulina
Dampak Banjir di Kotim, Suasana kios pedagang sayuran di Pusat Ikan Mentaya (PIM) Sampit. Selama kurang lebih 2 minggu terakhir harga sayuran lokal di Kota Sampit naik akibat terdampak banjir.  

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Dampak Banjir di Kotim, mengakibatkan lahan pertanian warga terendam sehingga menyebabkan harga Sayuran Petani Lokal di Pasar Sampit Naik.

Banjir yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat hasil panen sayuran menurun.

Akibatnya, harga beberapa komoditas pertanian lokal menjadi naik. Kondisi berlangsung lebih dari 2 minggu terakhir, sesuai dengan banjir yang melanda Kotim.

Menurut keterangan salah seorang pedagang sayuran di Pusat Ikan Mentaya (PIM) Sampit, Noor Aini, menyebutkan hal ini terjadi lantaran lahan pertanian sumber pasokan sayuran lokal itu terendam banjir. Akibatnya, tanaman sayuran banyak yang rusak.

Baca juga: Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit, Rutin Dilakukan Tiap Tahun Ritual Tolak Bala Bulan Safar

Baca juga: Banjir di Palangkaraya, Ketinggian Air 13 Kelurahan Mulai Surut BPBD Imbau Warga Tetap Waspada

Baca juga: Wujudkan Smart City Kotim, Kini Memasuki Tahap Final Bimtek Penyusunan Masterplan dan Quick Win

“Karena curah hujan dan air pasang sungai bersamaan banyak kebun orang yang kebanjiran. Semua tenggelam, tanaman jadi rusak membuat pasokan berkurang, alhasil harga pun naik,” ujarnya, Rabu (21/9/2022).

Aini menegaskan kenaikan harga sayuran ini bukan merupakan monopoli pedagang, tapi murni dampak dari banjir sehingga petani pun menaikan harga.

Pasalnya, kondisi ini sudah sering terjadi pada kondisi banjir maupun musim hujan yang sangat berdampak pada sektor pertanian.

Adapun, beberapa jenis sayuran lokal yang mengalami kenaikan harga saat ini antara lain, kangkung dari harga Rp 4 ribu menjadi Rp 7 ribu per ikat, kacang panjang dari Rp 8 ribu - Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu per ikat, Bayam dari Rp 7 ribu - Rp 8 ribu menjadi 12 ribu, lalu Gambas dari Rp 12 ribu - Rp 14 ribu menjadi Rp 20 ribu.

“Yang naik itu rata-rata sayuran hijau saja, yang didatangkan dari petani lokal. Kalau didatangkan dari luar daerah harganya masih sama, paling yang naik Cabai Keriting dan Cabai Hijau, tapi kami juga tidak tau alasannya kenapa,” bebernya.

Pedagang lainnya, Dahlia menambahkan kenaikan harga sayuran ini umumnya sudah dimaklumi oleh para konsumen.

Sehingga tidak terlalu berdampak pada penjualan. Konsumen tetap membeli, walaupun tak bisa dipungkiri ada beberapa yang mengurangi jumlah pembelian dari biasanya.

“Namanya kebutuhan, jadi walau mahal tetap ada yang beli. Masyarakat juga sudah terbiasa kalau ada banjir otomatis harga sayuran akan naik, jadi yang protes itu hampir tidak ada,” ucapnya.

Lanjutnya, sayuran lokal ini biasanya didatangkan dari petani lokal di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, seperti dari Desa Pelangsian dan Desa Pasir Putih.

Ada juga dari kecamatan lainnya. Umumnya sayuran lokal merupakan sayuran hijau yang cepat layu dan rusak, sehingga tidak memungkinkan mendatangkan dari luar daerah.

Sementara para pedagang tidak dapat memperkirakan berapa lama kondisi ini akan bertahan. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika curah hujan kembali meningkat dan banjir berlangsung lebih lama, sejumlah komoditas sayuran lokal akan mengalami kekosongan. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved