Berita Kotim

Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit, Rutin Dilakukan Tiap Tahun Ritual Tolak Bala Bulan Safar

Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit, sudah menjadi kebiasaan Rutin dilakukan tiap tahun sebagai ritual tolak bala di Bulan Safar.

Penulis: Devita Maulina | Editor: Fathurahman
Dok. warga / Agus
Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit, sudah menjadi kebiasaan Rutin dilakukan tiap tahun sebagai ritual tolak bala. Keseruan masyarakat di pinggiran Sungai Mentaya melaksanakan ritual mandi safar. Ritual ini merupakan tradisi masyarakat setempat dengan tujuan tolak bala. Digelar setiap hari rabu terakhir di bulan safar. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit, sudah menjadi kebiasaan Rutin dilakukan tiap tahun sebagai ritual tolak bala di Bulan Safar.

Bertepatan pada Rabu terakhir bulan Safar 1444 hijriyah, masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) antusias untuk melaksanakan mandi safar bersama-sama di Sungai Mentaya, Rabu (21/9/2022).

Untuk diketahui, mandi safar telah menjadi tradisi bagi masyarakat pesisir Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) setiap satu kali dalam setahun dengan sebagai wujud ritual tolak bala. Mandi safar juga telah dimasukan dalam agenda rutin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim. Tetapi, karena pandemi Covid-19 kegiatan ini vakum selama beberapa tahun terakhir.

Kendati demikian, tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk menggelar acara mandi safar secara mandiri seperti yang dilakukan masyarakat Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, yang beramai-ramai menceburkan diri ke Sungai Mentaya.

Baca juga: Wujudkan Smart City Kotim, Kini Memasuki Tahap Final Bimtek Penyusunan Masterplan dan Quick Win

Baca juga: Musim Mas Bantu Petani Sawit Swadaya Indonesia, Melalui Sertifikasi RSPO Petani Raih Rp 11 Miliar

Baca juga: Banjir di Palangkaraya, Ketinggian Air 13 Kelurahan Mulai Surut BPBD Imbau Warga Tetap Waspada

“Mandi safar ini sudah menjadi tradisi kami sejak lama. Kalau kata orang tua dulu biar bisa buang sial, supaya hari-hari kedepan bisa lebih baik lagi,” tutur Adi, salah seorang warga yang turut melaksanakan mandi safar.

Puluhan hingga ratusan warga yang didominasi anak-anak dan remaja turut berpartisipasi dalam mandi safar itu. Mereka meyakini dengan melaksanakan mandi safar sebagai media penyucian diri dan tolak bala, agar pada tahun selanjutnya kehidupan yang dijalani jauh dari kesialan.

Tak hanya di Kecamatan Baamang, mandi safar ini juga dilakukan oleh masyarakat di kecamatan lainnya yang berada di pinggiran sungai. Seperti, Kecamatan Kotabesi dan Cempaga.

Meski tidak ada acara seremoni khusus, masyarakat tetap antusias melaksanakan mandi safar. Bahkan, bagi sebagian orang mandi safar merupakan suatu hal yang wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Karena dikhawatirkan kedepannya kesialan akan sering menghampiri.

“Dengan mandi safar ini kami ingin menghilangkan kesialan. Selain badan bersih, jiwa juga bersih. Sebelum mandi kami juga memanjatkan doa bersama-sama,” ujar Irma, salah seorang warga lainnya.

mandi safar 1
Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit, sudah menjadi kebiasaan Rutin dilakukan tiap tahun sebagai ritual tolak bala. Warga bercebur di Sungai Mentaya melakukan ritual mandi safar menggunakan pelampung maupun benda lainnya.

Disamping itu, Irma berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim melalui Disbudpar kembali menyelenggarakan mandi safar. Pasalnya, mereka telah rindu akan penyelenggaraan mandi safar dengan skala besar dan meriah.

“Semoga tahun depan bisa diadakan oleh pemerintah lagi. Seperti sebelum Covid-19, pesertanya banyak dan dari mana saja, jadi lebih ramai,” pungkas Irma. (*)

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved