Berita Palangkaraya

KKN Mahasiswa UPR di Kotim, Ajak Warga Teluk Sampit Manfaatkan Tempurung Kelapa Jadi Briket

KKN Mahasiswa UPR di Kotim, mengajak Warga Kuin Permai Kecamatan Teluk Sampit Manfaatkan Tempurung Kelapa Jadi Briket.

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com/ Ghorby Sugianto
Dua orang mahasiswi Dora M Nainggolan dan Yoyotri menunjukan Briket hasil inovasi kelompoknya untuk Desa Kuin Permai, Kotim guna membantu perekonomian masyarakat setempat, Sabtu (17/9/2022) KKN Mahasiswa UPR di Kotim mengajari warga Kuin Permai Kecamatan Teluk Sampit memanfaatkan tempurung kelapa bernilai ekonomis. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - KKN Mahasiswa UPR di Kotim, mengajak Warga Kuin Permai Kecamatan Teluk Sampit Manfaatkan Tempurung Kelapa yang  Jadi Briket.

Selama ini warga yang bermukim di kawasan tersebut membiarkan tempurung kelapa hasil kebun mereka di buang dipinggiran jalan sehingga kedatangan mahasiswa UPR yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di lokasi tersebut memanfaatkanya.

Mahasiswa Universitas Palangkaraya (UPR) melakukan inovasi dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kuin Permai, Kecamatan Teluk Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. 

Sebanyak 15 mahasiswa  terdiri dari berbagai Fakultas di UPR itu membuat Briket dari tempurung kelapa. Guna membantu perekonomian masyarakat.

Baca juga: Pemkab Kotim Gandeng BPKP Audit Perizinan PBS Sawit, Cegah Perusahaan Lakukan Pelanggaran

Baca juga: SMP Perintis Telawang Kotim, Sempat Tiga Tahun Vakum Kini Kembali Beroperasi Jadi SMP Negeri 1

Baca juga: Pemkab Kotim Gandeng BPKP Audit Perizinan PBS Sawit, Cegah Perusahaan Lakukan Pelanggaran

Bermula dari dilihatnya, warga di desa tersebut merupakan penghasil kelapa, namun menjual mentah tidak menjadi produk, sehingga harganya pun relatif murah. 

"Awalnya itu kami lihat masyarakat di Desa Kuin Permai merupakan penghasil kelapa dan menjual dengan harga yang murah jadi kami berikan ide untuk buat briket," kata seorang mahasiswa KKN Dora M Nainggolan, Sabtu (17/9/2022). 

Briket merupakan alternatif bahan bakar juga dapat dimanfaatkan sebagai pembakaran shisa atau herbal tembakau yang dihirup bersama.

Cara membuatnya pun tergolong sederhana, yakni membakar tempurung lalu menumbuknya sampai halus. 

Setelah itu diayak, hasil ayakan dicampur dengan adonan tepung kanji. Briket lalu dicetak sesuai ukuran yang dikehendaki dan dijemur hingga kering. 

"Kalau menjemurnya itu bisa sehari kering kalau cuaca panas. Sekilo Briket dijual Rp 50 ribu per kilogramnya. Dengan begitu tempurung kelapa mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi dan dapat membantu perekonomian masyarakat," jelasnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved