Breaking News:

Berita Palangkaraya

Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan Palangkaraya Tidak Naikkan Harga Takut Sepi Pembeli

Penjual gorengan di Kota Palangkaraya, Kalteng mengeluhkan naiknya harga minyak goreng dalam beberapa hari ini.

Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com
Penjual gorengan di Jalan Sisingamangaraja Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Penjual gorengan di Kota Palangkaraya, Kalteng mengeluhkan naiknya harga minyak goreng dalam beberapa hari ini.

Minyak goreng merupakan bahan penting untuk penjual gorengan, sehingga saat harganya naik keuntungan pedagng gorengan juga turun separuh dari harga normal minyak goreng.

Hal tersebut diungkapkan Yayan penjual beraneka macam gorengan di Jalan Sisingamangaraja, Palangkaraya, Kamis (13/01/2022). 

"Minyak goreng naik terus mas, susah kami untungnya jadi separuh kami tidak berani menaikkan harga gorenganya," Ujar Yayan. 

Menurutnya menaikkan harga berdampak akan sepinya pelanggan yang hampir tiap hari mampir ke lapaknya.

Baca juga: Presiden Jokowi Minta Mendag Normalkan Harga, Minyak Goreng di Pasar Besar Palangkaraya Masih Mahal

Baca juga: Hari Pertama 2022 Harga Cabai dan Minyak Goreng di Pasar Besar Kota Palangkaraya Belum Turun

Baca juga: Jelang Akhir Tahun di Palangkaraya, Harga Minyak Goreng, Susu & Mi Instan Meroket, Telur Naik Turun

Dalam sehari Yayan memproduksi gorengan sampai 1000 biji menghabiskan 10 liter minyak. 

Sedangkan saat ini minyak goreng harganya Rp20ribu sampai Rp22ribu perliter jika kebutuhan minyak 10 liter maka pengeluaran untuk minyak goreng kurang lebih Rp200rb seharinya. 

Penghasilan pria berumur 29 tahun ini merosot menjadi 150 ribu perhari karena naiknya harga bahan baku pokok tepung dan minyak goreng. 

Dia juga memiliki pegawai adiknya sendiri yang membantunya, digaji Rp600 ribu dalam sebulan. 

Ditempat terpisah Enggal pedagang toko kelontong di daerah Sisingamangaraja, Palangkaraya mengungkapkan jika naiknya harga minyak goreng kemasan tidak berpengaruh pada penjulan. 

"Tetap sama saja tidak ada penurunan permintaan, karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok. Mau tidak mau mereka beli," Kata Enggal. 

Jangka waktu beberapa bulan minyak goreng kemasan sudah naik 2 kali dari 12 ribuan hingga 22 ribuan. 

Meski Kalteng sendiri memiliki lahan perkebunan sawit seluas 1.508.215 Ha ditahun 2018 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). 

Dan produksi sawit dalam jumlah ton mencapai 5.158.523 ditahun 2018, ternyata harga minyak goreng masih tinggi dijual di pasar. (*)
 
 
 
 

 

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved