Doa dan Amalan
Bagaimana Takbiratul Ihram yang Benar? Simak Doa Iftitah Lengkap Tulisan Arab, Latin dan Terjemahan
Bagaimana Takbiratul Ihram yang benar? Simak Doa Iftitah lengkap tulisan Arab, Latin dan terjemahan
TRIBUNKALTENG.COM - Bagaimana Takbiratul Ihram yang benar? Simak Doa Iftitah lengkap tulisan Arab, Latin dan terjemahan.
Takbiratul Ihram adalah satu dari enam Rukun Sholat sehingga apabila tidak dikerjakan atau terlewat, maka sholatnya menjadi tidak sah.
Adapun yang termasuk Rukun Sholat adalah:
1. Berdiri Bagi yang Mampu (boleh duduk atau tidur dengan alasan kuat)
2. Niat dalam Hati
4. Membaca Surat Al-Fatihah
5. Ruku
6. Iktidal
7. Sujud
8. Duduk di antara dua sujud
9. Duduk Tasyahud Akhir
10. Membaca Tasyahud Akhir.
11. Membaca Sholawat
12. Mengucapkan salam
13. Tertib
Baca juga: Masuk Masjid Langsung Sholat Tahiyatul Masjid, Jangan Duduk, Keutamaannya Sebaik-baik Amalan
Baca juga: Bacaan Surah Al Jatsiyah yang Menyebut Adanya Azab Pedih bagi Manusia yang Sombong
Baca juga: Doa Nabi Nuh yang Bisa Diamalkan Tiap Hari, Doa untuk Orang Tua dan Doa Menghindari Orang Zalim
Baca juga: Doa Sayyidul Istighfar, Mohon Pengampunan Telah Berbuat Salah, Simak Tata Cara Berdoa yang Benar
Syekh Wahbah Az Zuhaili dalam Kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu juz 2 menulis, Takbiratul Ihram adalah kondisi seseorang yang hendak mulai sholat, berdiri menghadap kiblat sambil mengucap takbir, اللّٰهُ أَكْبَر (allāhu akbar) yang artinya Allah Maha Besar.
Disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan at Tirmidzi dengan sanad shahih dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda, "kunci sholat adalah bersuci dan pengharamannya adalah takbir."
Disebutkan juga dalam hadits dengan sanad muttafaq 'alaihi, Rasulullah SAW bersabda, "Jika engkau hendak mendirikan sholat, maka bertakbirlah."
Disebut Takbiratul Ihram sebab ketika seorang sudah mengucap takbir untuk memulai sholat, saat itu diharamkan baginya yang semula halal. Seperti: makan, minum, berbicara dan hal-hal yang bisa membatalkan sholatnya.
Ada pun maksud takbir itu sendiri adalah dzikir mengingat Allah SWT.
Tata Cara Takbiratul Ihram
Dalam buku Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi oleh Imam an-Nawawi, berdasarkan pendapat yang sahih, bacaan Takbiratul Ihram tidak dibaca panjang tapi sedang.
Kemudian, bacaan takbir selain Takbiratul Ihram dibaca panjang hingga sampai posisi rukun selanjutnya.
Disunnahkan bagi imam untuk membaca panjang Takbiratul Ihram dan pada takbir selanjutnya dibaca keras agar makmum dapat mengetahui dan mendengarkan.
Sementara untuk makmum, Takbiratul Ihram dibaca dengan suara pelan, paling tidak dapat didengar sendiri.
Mengutip buku Buku Induk Doa & Zikir oleh Imam Nawawi, lafaz takbir adalah Allahu akbar atau Allaahul Akbar.
Namun, dianjurkan untuk melafazkan yang pertama agar terhindar dari perselisihan karena beberapa mazhab menyatakan lafaz kedua tidak boleh dan dapat membuat sholat tidak sah.
Berikut bacaan Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah lengkap tulisan Arab, latin dan terjemaahannya
Bacaan Takbiratul Ihram
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar
Artinya: Allah Maha Besar
Setelah melafalkan takbiratul ihram, disunnahkan bagi umat Muslim untuk membaca Doa Iftitah.
Bacaan Doa Iftitah:
اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .
Allaahu akbaru Kabiraa Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.
Artinya: Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang.
Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan atau dalam keadaan tunduk, dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan-Nya.
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim (Orang-orang yang berserah diri). (*)