Badan Restorasi Gambut dan Mangrove

Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan, BRGM Optimalisasikan Sumur Bor untuk Pembasahan Lahan Gambut

(BRGM) bersama Pemda dan masyarakat setempat melakukan Operasi Pembasahan Lahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK)

Editor: Royan Naimi
BRGM
MPA Desa Mintin sedang melakukan pemeliharaaan sumur bor. 

TRIBUNKALTENG.COM, PULANGPISAU - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bersama Pemda dan masyarakat setempat melakukan Operasi Pembasahan Lahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK) guna mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Kegiatan OPGRK dilakukan di dua desa yaitu Desa Wono Agung, Kecamatan Maliku dan Desa Mintin, Kecamatan Kahayan Hilir, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Upaya tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari Masyarakat Peduli Api (MPA) terkait tidak turunnya hujan selama tujuh hari.

“Awal juli itu sudah mulai jarang hujan, terkadang lima hari ada gerimis saja, terkadang panas lagi, sampai sekarang pun masih kurang hujannya, masih kering. Ada anjuran kalau tidak ada hujan selama tujuh hari suruh melaporkan,” ujar Ketua MPA Desa Wono Agung, Hadi Suwito.

Baca juga: Antisipasi Kebakaran Gambut di Kalimantan perlu libatkan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor

Baca juga: BRGM Gelar Dialog Bernas Pengelolaan Lahan Gambut Wilayah Kalimantan

Hadi mengatakan kelompoknya yang terdiri dari 10 orang tersebut baru saja menyelesaikan pemeliharaan 50 sumur bor pada 31 Juli 2021.

“Kondisi semua parit saat ini masih kering. Proses pemeliharan biasanya memakan waktu selama dua hari dan dijadwalkan rutin dilakukan sebulan sekali selama enam bulan,” ungkap Hadi.

Menurutnya, upaya pencegahan sangat penting karena bisa meminimalisir terjadinya kebakaran lahan gambut.

“Alhamdulillah 2020 tidak sampai terjadi kebakaran. Terjadi karena adanya pencegahan. Saya berharap 50 sumur bor yang ada saat ini dapat berfungsi secara optimal,” pungkasnya.

Pemeliharaan sumur bor di Desa Mintin

Adapun lokasi lain yang juga tidak turun hujan selama tujuh hari yaitu Desa Mintin, Kecamatan Kahayan Hilir, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. MPA pun terus berupaya untuk melakukan pemeliharaan terhadap 100 titik sumur bor yang ada.

“Kemarin kita sudah lakukan kegiatan di lapangan sesuai petunjuk, ini sudah semingguan kami laksanakan, masih panas, kemarin ada hujan paling sebentar jadi kering lagi, apalagi sekarang ekstrem sekali panasnya,” ujar Ketua MPA Desa Mintin, Irawan.

Namun Irawan membeberkan sejumlah kendala yang dihadapi, di mana terdapat peralatan serta satu sumur bor yang rusak sehingga butuh perbaikan.

“Dari 100 sumur bor yang ada sejak 2017, satu di antaranya rusak, kini tersisa 99,” ujar Irawan.

Ia pun berharap ada penambahan 200 sumur bor lagi, karena pada tahun 2019 sempat ditemukan dua titik api yang sulit dipadamkan hingga meluas dan membakar perkebunan warga.

“Saat kemarau itu kewalahan karena titik api ga bisa padam. Hari ini padam besok ada lagi. Kendalanya ya tidak ada sumber air, sampai kebun kami tinggal beberapa pohon saja,” cerita Irawan.

Seyogyanya, Jany Tri Raharjo selaku Kepala Kelompok Kerja (Kapokja) Restorasi Gambut Kalimantan dan Papua mengatakan sumur bor dibangun di wilayah rentan terbakar pada musim kemarau yang tidak memiliki atau jauh dari sumber air seperti sungai.

Lanjutnya, BRGM terus mendorong upaya pembasahan gambut sebagai bentuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, tak hanya di Desa Wono Agung dan Desa Mintin tapi juga di 86 desa binaan di Kalimantan Tengah.

“Dalam menunjang kegiatan pembasahan tersebut, TP Satker Kalteng juga melakukan kegiatan pemeliharaan 9,165 SBO pada 7 Kabupaten, 1 kota di 86 desa yang dilaksanakan Pokmas atau MPA binaan,” kata Jany.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved