Sains

Kenapa Musim Kemarau tapi Sering Turun Hujan? Inilah Penjelasan dari BMKG

Prakirawan senior BMKG, Dr Ida Pramuwardani ST MSi mengingatkan saat musim hujan bukan berarti tak ada hari dengan cuaca panas terik

Editor: Rahmadhani
tribunkalteng.co/fathurahman
Kebakaran lahan berdampak memunculkan kabut asap, seperti di jalan trans kalimantan arah Palangkaraya-Kasongan, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM - Agustus 2020 disebut sebagai puncak musim kemarau untuk periode kali ini. Namun kenyataannya, kita masih kerap mendapat kabar curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia tinggi.

Hal ini kerap  membuat masyarakat bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah saat ini memang benar puncak kemarau atau masih musim hujan?

Menjawab pertanyaan masyarakat tersebut, Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menjelaskan bagaimana kondisi cuaca yang sebenarnya terjadi saat ini.

Prakirawan senior BMKG, Dr Ida Pramuwardani ST MSi dalam akun resmi instagram @InfoBMKG mengingatkan, saat musim hujan bukan berarti tak ada hari dengan cuaca panas terik.

Hujan Jarang Turun, Kebakaran Lahan Mulai Sering Terjadi di Palangkaraya

Pencurian di Rumah Kosong Marak di Palangkaraya Beberapa Minggu Terakhir ini

"Begitu juga pada musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali yang terjadi," kata Ida.

Sebelumnya, BMKG mengatakan bahwa puncak musim kemarau pada periode tahun ini adalah Agustus.

Namun, ada sejumlah wilayah juga yang justru mengalami cuaca ekstrem seperti hujan berintensitas tinggi atau lebat.

Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan sejumlah wilayah diguyur hujan lebat Agustus ini, antara lain:

1. Anomali suhu muka laut

Faktor pertama penyebab curah hujan intersitas tinggi masih sering terjadi yaitu karena anomali suhu muka laut.

Ida mengatakan, anomali suhu muka laut ini adalah perbedaan suhu muka laut pada waktu pengamatan dengan kondisi normalnya. Kondisi ini terjadi terutama di wilayah berikut:

  • Perairan Barat Sumatera
  • Perairan Selatan Jawa
  • Laut Banda
  • Laut Maluku
  • Laut Halmahera
  • Laut Arafuru

Kondisi anomali suhu muka laut di wilayah tersebut, kata Ida, mampu memberikan suplai uap air terhadap pembentukan awan-awan hujan di Indonesia.

2. Gelombang atmosfer

Ida menyebutkan, beberapa kali teramati aktifnya gelombang atmosfer atau gelombang ekuator di atas wilayah Indonesia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved