Breaking News:

Berita Jakarta

Rapid Test Tak Dihapus, Begini Penjelasan Satgas Penanganan Covid-19

Pemerintah belum akan menghapus rapid test karena sampai saat ini masih berperan penting sebagai screening warga yang berpotensi terpapar virus corona

TRIBUNNEWS.COM/ANANDA BAYU
Juru bicara Satgas Penangan Covid-19, Wiku Adisasmito. 

Editor: Alpri Widianjono

TRIBUN KALTENG.COM, JAKARTA - Telah muncul desakan tentang menghapus rapid test karena beberapa pihak menilai tidak efektif mendeteksi adanya virus corona atau Covid-19.

Sebab, ada warga yang telah beberapa kali melakukan rapid testdan hasilnya nonreaktif. Tetapi ketika saat dites swab, justru hasilnya positif Covid-19. Karena inilah, banyak yang mengkritik keakuratan rapid test untuk mendeteksi virus korona.

Atas situasi ini, pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 menegaskan akan tetap menerapkan rapid test. Seperti yang disampaikan juru bicaranya, Wiku Adisasmito.

Dikatakan lelaki yang biasa disapa Wiku ini saat di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2020), rapid test masih layak digunakan di Indonesia saat ini. 

Meskipun, banyak pihak menilai bahwa tes cepat untuk mendeteksi virus corona tersebut sudah tak layak dijadikan acuan karena tidak akurat.

Covid-19 Kalteng Bertambah, Kapolda Tambah Ambulance dan Siapkan Rumah Sakit Darurat

Bantu Cegah Pebyebaran Covid-19, Bapenda Kalteng Bagikan Masker ke Masyarakat,

Satgas Covid-19 Palangkaraya Pantau Warga yang Menggelar Resepsi Pernikahan

Ditsamapta Polda Kalteng Gencar Razia ke THM Demi Mencegah Penyebaran Covid-19

Pengakuan Pengemudi Ojol Usai Disuntik Calon Vaksin Covid-19, Ngantuk dan Lapar

Rencana Vaksin Covid-19, Gubernur Kalteng Sugianto Sabran Imbau Begini

Menurutnya, pemerintah belum akan menghapus rapid test karena sampai saat ini masih berperan penting sebagai screening warga yang berpotensi terpapar virus corona.

Wiku menjelaskan, baik seseorang yang menunjukkan hasil reaktif maupun non reaktif, mereka diminta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

"Apabila fungsi screening misalnya positif, maka harus dilanjutkan dengan PCR test. Apabila rapid test yang bersangkutan negatif, tetapi punya riwayat kontak erat dengan penderita, harus hati-hati dan lakukan isolasi mandiri. Jadi kita semua prinsipnya hati-hati," ucap Wiku.

Kemudian, dia juga mengingatkan seluruh penyelenggara rapid test agar menjaga kualitas alat rapid testnya sehingga hasilnya bisa ke luar dengan maksimal dan benar-benar menggambarkan kondisi tubuh yang sebenarnya.

Halaman
12
Editor: Alpri Widianjono
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved