Breaking News:

Berita Kotim

Penumpang Pesawat di Sampit Keluarkan Biaya Dua Kali Lipat untuk Rapid Test karena ini

Jadwal penerbangan yang tidak pasti membuat penumpang terpaksa beberapa kali melakukan pemeriksaan rapid test.

tribunkalteng.com/fathurahman
Penumpang pesawat di Bandara H Asan Sampit, saat berangkat pesawat wajib menyertakan Surat Kesehatan Bebas Covid-19 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Keluhan penumpang terkait kewajiban penggunaan surat kesehatan Bebas Covid-19 juga diungkapkan penumpang pesawat di Bandara H Asan Sampit, Kotawaringin Timur.

Jadwal penerbangan yang tidak pasti membuat penumpang terpaksa beberapa kali melakukan pemeriksaan rapid test.

Hermanto salah satu calon penumpang di Bandara H Asan Sampit bersama adiknya, terpaksa harus mengeluarkan uang hingga Rp 900 ribu rupiah saat ingin berangkat ke Semarang.

Hal ini terjadi karena tidak sinkronnya jadwal penerbangan dengan pemeriksaan rapid test yang hanya berlaku untuk tiga hari.

Harus Keluarkan Biaya Tambahan untuk Surat Bebas Covid-19, ini Keluhan Penumpang Kapal di Sampit

Serunya Liburan Aurel Hermansyah Bareng Atta Halilintar di Villa, Mpok Nur Malah Ngidam Makanan Ini

Dua Mobil Mewah Verrell Bramasta Jadi Properti Syuting, Totalitas Perankan Pangeran

"Saya sampai dua kali melakukan rapid test, biayanya mencapai Rp 900 ribu. Rencana penerbangan pertama sudah melakukan rapid test, namun ternyata pas ada jadwal penerbangan tiket habis, surat keterangan sehat covid-19 jadi kadaluarsa," ujarnya, Minggu (21/6/2020).

Kemudian, lima hari berikutnya, saat ingin berangkat lagi, terpaksa kembali memeriksakan kesehatan bebas covid-19, baru bisa berangkat, namun biaya jadi dua kali pemeriksaan covid-19 hingga Rp900 ribu rupiah ditambah biaya tiket pesawat.

"Jadinya membengkak mencapai Rp 2 juta lebih untuk tiket pesawat dan dua kali pemeriksaan Covid-19," ujarnya.

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara H Asan Sampit, Rosana mengakui kewajiban semua penumpang pesawat menyertakan surat keterangan bebas Covid-19 tersebut sesuai aturan.

Dia juga mengakui ada penumpang yang hingga dua kali melakukan pemeriksaan rapid test karena harus menyesuaikan dengan jadwal penerbangan.

Beberapa penumpang mengatakan, pesawat tidak pasti berangkat sesuai jadwal karena harus menyesuaikan dengan target penumpang.

Meski telah terjadwal, tetapi jumlah penumpang kurang, bisa saja penerbangan dibatalkan, dan menunggu beberapa hari hingga sesuai target.

Muhammad Gumarang, pemerhati sosial di Kotim, mengungkapkan, selayaknya biaya pemeriksaan covid-19 untuk penumpang pesawat atau kapal laut tidak dibebankan kepada penumpang, karena kondisi Indonesia saat ini dalam darurat bencana Covid-19.

"Ketika masih darurat harusnya biaya pemeriksaan kesehatan covid-19 jadi tanggungjawab pemerintah. Jika tetap dibebankan kepada penumpang, apalagi biaya pemeriksaan mahal, ada kesan bisnis dalam pemeriksaan rapid test tersebut, wajar saja penumpang mengeluhkannya. Apalagi biaya pemeriksaan rapid test lebih mahal daripada harga tiket kapal atau pesawat, " ujarnya.

tribunkalteng.com/ faturahman

Penulis: Fathurahman
Editor: Edinayanti
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved