Gempa Donggala dan Palu

NASA Temukan Pemicu Likuifaksi Palu, Ini Fakta Terbaru Gempa Palu yang Bikin Ilmuwan Kaget

Temuan fakta terbaru bencana gempa Palu, 28 September 2018, diungkap Laboratorium Propulsi Jet NASA (JPL) di Pasadena, California, AS.

EPA
Kelurahan Petobo di Palu merupakan salah satu daerah yang mengalami likuifaksi 

TRIBUNKALTENG.COM - Temuan fakta terbaru bencana gempa Palu, 28 September 2018, diungkap Laboratorium Propulsi Jet NASA (JPL) di Pasadena, California, AS.

Gempa bumi yang meluluhlantakkan Palu disusul tsunami dan likuifaksi yang menewaskan 2.086 jiwa dengan total kerugian mencapai Rp 18,48 triliun, ternyata tergolong peristiwa langka yang cuma terjadi sebanyak 15 kali dalam catatan sejarah geografi.

Gelombang seismik bergerak menelusuri sesar Bumi dengan kecepatan super yang memecahkan batas kecepatan geologis, klaim ilmuwan JPL.

Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature Geoscience itu mengungkap retakan bergerak di sepanjang sesar dalam kecepatan yang sangat tinggi dan memicu gelombang naik turun atau sisi ke sisi yang mengguncang permukaan tanah dan menyebabkan likuifaksi.

Korban Gempa Palu Ini Selamat Dari Likuifaksi, Begini Cerita Polhut Ini Selamatkan Anak dan istri

Pasokan Ayam Potong Banjiri Pasar Palangkaraya, Harga Langsung Turun

Hasil studi ini sejalan dengan kesaksian korban selamat dari neraka lumpur likuifaksi yang menelan nyawa dan harta warga di kawasan Balaroa, Petobo dan Jogo One.

v
Foto sebelum dan sesudah gempa bumi yang disertai fenomena likuifaksi tanah mengguncang Palu

Getaran yang tercipta jauh lebih kuat ketimbang pada gempa bumi yang lebih lambat.

Untuk mengungkap temuan tersebut ilmuwan menganalisa pengamatan resolusi tinggi spasial terhadap gelombang seismik yang disebabkan gempa bumi, radar satelit dan citra optis.

Metode ini diperlukan buat menghitung kecepatan, tempo dan tingkat magnitudo gempa berkekuatan 7,5 pada skala Richter di Sulawesi Tengah.

Menurut JPL, gempa di Palu bergerak dalam kecepatan stabil, yakni 14,760 km per jam, dengan getaran terbesar terjadi selama satu menit.

Gempa bumi biasanya terjadi dalam kecepatan antara 9.000 hingga 10,800 km per jam.

Ilmuwan menemukan, dua sisi dari sesar sepanjang 150 kilometer itu bergeser sepanjang lima meter - jumlah yang menurut ilmuwan sangat besar.

"Memahami bagaimana sesar bergerak pada gempa bumi besar bisa membantu menyempurnakan pemodelan bahaya seismik dan desain bangunan serta infrastruktur lainnya agar bisa menahan gempa bumi di masa depan," kata salah satu penulis studi, Eric Fielding, ilmuwan JPL.

Menurut studi, Sesar yang retak menciptakan ragam jenis gelombang di tanah, termasuk gelombang geser yang menyebar dengan kecepatan 12.700 km per jam.

Dalam gempa berkecepatan tinggi seperti di Palu, retakan yang bergerak cepat menyalip gelombang geser yang lebih lambat dan menciptakan efek domino yang menghasilkan gelombang seismik yang lebih mematikan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved