Soal Nonton Film G30S/PKI, Begini Komentar Panglima TNI

Sebelumnya, Hadi mengatakan ideologi komunis membawa sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.

Editor: Mustain Khaitami
Puspen TNI/Kolonel Laut (KH) H. Agus Cahyono
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. bersama Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mendapat gelar kehormatan masyarakat Adat Dayak Kalimantan Tengah, bertempat di ruang VIP Bandara Tjilik Riwut. Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (26/4/2018) Penganugerahan gelar kehormatan itu merupakan bentuk penghormatan dan kepercayaan kepada Panglima TNI dan Kapolri dalam menjaga keharmonisan masyarakat di Kalteng. 

TRIBUNKALTENG.COM - Pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI kembali menjadi polemik untuk pemutarannya. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga ikut berkomentar.

Jelang tanggal 30 September, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan siapa saja boleh menonton film Pengkhianatan G 30 S PKI.

"Menonton itu adalah hak seluruh warga negara," ujarnya di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2018).

Hari apa pun, menurut Hadi, bagi mereka yang ingin menyaksikan film tersebut dipersilakan.

Baca: Tantang KSAD Perintahkan Pemutaran Film G30S/PKI, Gatot Nurmantyo: Tak Berani, Lepas Pangkat

Baca: Tak Bisa Masuk Link sscn.bkn.go.id? Perhatikan 7 Hal Penting Ini Sebelum Pendaftaran CPNS 2018

Baca: Punya Kekasih Baru, Kriss Hatta: Lebih Cantik dari Hilda Vitria

"Karena itu adalah bagian dari sejarah bangsa, di mana ideologi komunis harus benar-benar kita tolak untuk tidak bisa masuk ke negeri Pancasila ini," ujarnya.

Sebelumnya, Hadi mengatakan ideologi komunis membawa sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.

"Namun, sesuai dengan semangat persatuan dan kesatuan, komunis tidak bisa hidup di negara Pancasila ini," ujarnya di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu

TNI, kata Hadi, juga tetap akan mengantisipasi terkait potensi munculnya ideologi terlarang tersebut.

Dirinya pun mencontohkan, bagaimana aparat-aparat TNI teritorial mengecek pemberitaan tentang sejumlah pasukan membawa senjata AK-47 dan bendera yamg menyerupai palu arit di sebuah daerah yang diduga membawa ideologi komunisme.

"Ternyata pas kita cek, itu adanya di negara tetangga kita di sebelah utara sana, di Laos," kata Hadi.

Saat berkunjung ke tempat tersebut pun, dirinya menghindar ketika hendak berfoto karena di kanan dan kirinya terpasang bendera palu arit.

"Komunis menjadi perhatian kita, menjadi bahaya laten dan telah melakukan hal yang terburuk kepada bangsa Indonesia, sehingga menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia dan kita tidak pernah lupa," pungkasnya.

Sindiran Gatot Nurmantyo

Sebelumnya, mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo menuliskan catatan mengenai pemutaran film Gerakan 30 September.

Hal ini diungkapkan Gatot Nurmantyo melalui Twitter miliknya, @Nurmantyo_Gatot, Kamis (20/9/2018).

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved