Smart Parenting
Jangan Memuji Anak Pintar, Begini Cara Memujinya
Menurut hasil penelitian terbaru, anak-anak yang berpikir jika dirinya sudah cerdas cenderung kurang memperhatikan dan bangkit dari kesalahannya
TRIBUNKALTENG.COM - Anda memiliki anak pintar dengan nilai di atas rata-rata memang sangat membahagiakan.
Sehingga apa yang orangtua upayakan selama ini terasa terbayar dengan melihat anak sukses.
Tapi, memujinya pintar secara terang-terangan ternyata tak baik untuk tumbuh kembang anak.
Baca: Malaysia Klaim Pencak Silat, Artefak di Candi Borobudur Jadi Bukti Sejarah
Baca: Beredar Video Dosen Minta Uang Rp 2.000 pada Mahasiswa, Kampus Tegaskan Tiada Pungutan
Menurut hasil penelitian terbaru, anak-anak yang berpikir jika dirinya sudah cerdas cenderung kurang memperhatikan dan bangkit dari kesalahannya daripada anak-anak yang merasa kecerdasan dapat tumbuh dan berubah.
Memberi tahu anak-anak bahwa mereka pintar bisa memperkuat pemikiran kecerdasan adalah bakat genetik, bukan keterampilan yang dapat diasah.
Baca: Razia Warnet, Petugas Kaget karena Ternyata Jadi Tempat Mesum Siswa SMP
Baca: Mabuk, Pemuda Ini Habisi Nenek-nenek Lalu Memperkosanya
Baca: Diisukan Selingkuh dengan Pramugari, Sule Nyatakan Berani Sumpah Alquran
Demikian hasil penelitian yang telah diterbitkan oleh jurnal Developmental Cognitive Neuroscience. Riset dilakukan oleh peneliti dari Michigan State University dengan meneliti 123 anak berusia tujuh tahun.
Usia ini diangap sebagai penuh tantangan karena transisi ke sekolah. Tujuan studi adalah untuk menilai apakah anak-anak memiliki mindset yang berkembang dengan mempercayai kepandaian bisa didapatkan dengan kerja keras, atau sebaliknya.
Peneliti kemudian meminta anak-anak untuk menyelesaikan tugas akurasi komputer yang serba cepat sembari merekam aktivitas otak mereka.
Selama perekaman, para peneliti mencatat aktivitas otak melonjak dalam waktu setengah detik setelah anak-anak membuat kesalahan.
Lonjakan aktivitas pada otak terjadi ketika anak-anak menyadari kesalahan mereka dan memberi perhatian lebih pada apa yang salah. Semakin besar respon otak, semakin anak fokus pada kesalahannya.
Berdasarkan data yang terkumpul, para peneliti menyimpulkan anak-anak dengan "mindset berkembang" jauh lebih mungkin untuk memiliki respon otak yang lebih besar setelah membuat kesalahan.
Pada gilirannya, ini membuat mereka lebih mungkin untuk meningkatkan kinerja dengan memperhatikan lebih pada tugas mereka setelah membuat kesalahan.
Riset sebelumnya telah menunjukkan orang-orang dengan "mindset tetap" tidak mau mengakui mereka membuat kesalahan. Peluang untuk belajar Memperbaiki kesalahan hanya terjadi jika mereka memberi perhatian penuh pada kesalahan itu.
“Implikasi utamanya di sini adalah kita harus memperhatikan kesalahan kita dan menggunakannya sebagai peluang untuk belajar,” kata Hans Schroder, selaku pemimpin riset.
Bagi orangtua, sebaiknya batasi diri untuk terus mengatakan anak pintar, terutama pada anak di usia awal sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/tribunkalteng-anak-cerdas_20171202_212140.jpg)