73 Tahun Indonesia Merdeka

Sempat Diwarnai Hujan Tangis, Begini Kisah Proses Membuat Duplikat Bendera Pusaka

Percobaan segera dilakukan dengan bahan kapas dan kedua dengan bahan rayon yang mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Sutera.

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Ilustrasi - Pasukan Paskibraka bertugas menaikkan Bendera Merah Putih dalam Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi HUT ke-70 RI di Istana Merdeka, Senin (17/8/2015). (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNKALTENG.COM - Beberapa tahun setelah proklamasi kemerdekaan Inonesia, bendera pusaka asli tak lagi dikibarkan.

Itu karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan lagi dan terlalu tua.

Sebagai gantinya, duplikat bendera pusaka pun dibuat.

Namun ternyata, membuat duplikat bendera tidak semudah yang dibayangkan orang.

Bagaimana perjalanan panjang proses pembuatannya? M. Dip. S. pernah mengisahkan liku-liku pembuatannya dalam Intisari November 1971.

Baca: HUT Kemerdekaan RI 2018, Quote Soekarno dan Kumpulan Kata Ucapan HUT RI untuk FB, Instagram dan WA

Baca: Dita Soedarjo Berani Tampil Tanpa Make Up, Ternyata Begini Wajah Asli Calon Istri Denny Sumargo Ini

Baca: Live Streaming Timnas U-23 Indonesia vs Laos Asian Games 2018 di 17 Agustus 2018, Tonton di SCTV

Pengibaran bendera pusaka saat proklamasi 17 Agustus 1945.
Pengibaran bendera pusaka saat proklamasi 17 Agustus 1945. (Via Intisari Online)

Oknum Pelajar di Palangkaraya Tertangkap Nyabu, Paket 100 Ribu Pakai Bareng-bareng

Arab Saudi Lumpuhkan Pria Berompi Bom Setelah Baku Tembak

Gaji PNS Bakal Naik, Begini Penjelasan Menkeu

Perlu survei

Ide pertama adalah dari bapak Presiden Soeharto yang melalui Departemen Perindustrian menginstruksikan kepada Institut Tekhologi Tekstil di Bandung untuk melaksanakannya.

Itu terjadi pada bulan September 1968 dan harus dapat selesai untuk dikibarkan pada peringatan 17 Agustus tahun berikutnya.

Kalau soal benderanya memang tidak kelihatan adanya keanehan tetapi karena ketentuan yang harus dipenuhi menyebabkan kami harus bekerja dengan hati-hati.

Survei segera diadakan untuk mendapatkan bahan baku yang harus Sutera Alam dari Indonesia sendiri dan mesin yang akan dipakai untuk itu, sebab pada saat itu I.T.T. belum memiliki mesin tenun khusus untuk benang-benang filamen.

Harus ada orang tidur di bawah mesin

Warna merah dan putih dari bendera tidak boleh disambung dengan cara djahit. Ini merupakan ketentuan yang unik yang harus dilaksanakan.

Percobaan segera dilakukan dengan bahan kapas dan kedua dengan bahan rayon yang mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Sutera.

Dari pengalaman itu ternyata pelaksanaannya tidaklah semudah yang kami perkirakan sebelumnya, sebab bagi tukang tenun dengan dibuatnya dua lembar kain dalam satu mesin sekaligus sukar dapat mengontrol defect (kesalahan tenun) yang berada di lembar kain bawah.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved