Evaluasi Car Free Nigth
Car Free Night Tingkatkan Perekonomian, Tapi Keluarkan Dana Besar Datangkan Artis
Car Free Night harus dipahami sebagai bagian dari kebijakan publik yang mengandung eksternalitas positif dan negatif sekaligus.
Penulis: Muhammad Iqbal Zulkarnain | Editor: Pangkan Banama Putra Bangel
TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Gelaran Car Free Night (CFN) atau Huma Betang Night di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya terus menjadi sorotan publik.
Tak hanya dari masyarakat umum, tanggapan juga datang dari kalangan akademisi.
Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya, Suherman Juhari menilai, CFN tidak bisa dilihat secara hitam-putih dalam konteks pro dan kontra.
Baca juga: Ketua Komisi II DPRD Kalteng Minta Evaluasi Gelaran Car Free Night di Palangka Raya
Baca juga: Ramai di Medsos! Warga Kritik Acara Car Free Night Palangka Raya Dinilai Ganggu Lalu Lintas
Baca juga: Marion Jola Bikin Penonton Histeris, King Nassar Buat Ribuan Warga Kalteng Goyang di Car Free Night
Menurutnya, kegiatan tersebut harus dipahami sebagai bagian dari kebijakan publik yang mengandung eksternalitas positif dan negatif sekaligus.
“Sebagai kebijakan publik, CFN punya banyak sisi. Ada nilai tambah yang dihasilkan, tapi tentu ada juga dampak negatif yang tidak bisa diabaikan,” ujar Suherman kepada Tribun Kalteng, Rabu (30/7/2025).
Ia menyebut, dari sisi positif, CFN berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini memiliki keterbatasan akses ke pasar formal.
“Lewat CFN, pelaku usaha kecil dapat menjangkau konsumen baru, membangun branding, serta menciptakan transaksi langsung yang berdampak positif pada perputaran uang,” katanya.
Selain itu, CFN juga dinilai menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.
“Kegiatan ini menghadirkan suasana kebersamaan. Komunitas seni, budaya, dan hiburan lokal pun mendapatkan panggung untuk mengekspresikan diri,” tambahnya.
Meski demikian, Suherman juga menyoroti beberapa dampak negatif yang muncul, terutama terkait pengelolaan teknis kegiatan.
“Salah satu dampak langsung adalah kemacetan akibat penutupan jalan, karena sistem pengalihan arus belum terintegrasi dengan baik. Ini harus jadi perhatian,” jelasnya.
Selain kemacetan, produksi sampah yang tinggi juga menjadi persoalan.
“Seringkali tidak ada pengelolaan maksimal dari penyelenggara maupun pelaku usaha, sehingga pengunjung buang sampah sembarangan,” pungkasnya.
Isu lain yang mencuat ialah soal anggaran. Di tengah banyaknya pekerjaan rumah infrastruktur di Kalimantan Tengah, penggunaan dana besar untuk menghadirkan artis nasional setiap pekan dinilai tidak tepat sasaran.
“Kalau tidak diantisipasi, CFN bisa kehilangan legitimasi sosial dan dianggap sebagai acara populis tanpa dampak ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/Pengamat-Ekonomi-Suherman-Jauhari-30-Juli-2025.jpg)