Kabar Dayak
Beda Prosesi Ritual Mantat Tumate dengan Tiwah Khas Dayak Kalteng
Mantat Tu’mate merupakan ritual masyarakat Dayak Kalimantan Barat untuk mengantarkan orang yang baru saja meninggal dunia.
Penulis: Nor Aina | Editor: Nia Kurniawan
TRIBUNKALTENG.COM - Kabar Dayak kali ini, berikut ini perbedaan prosesi ritual Mantat Tu’mate dan Ritual Tiwah khas Suku Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng).
Tradisi Mantat Tu’mate merupakan ritual masyarakat Dayak Kalimantan Barat untuk mengantarkan orang yang baru saja meninggal dunia.
Sedangkan Ritual Tiwah merupakan upacara kematian adat sekaligus ritual sakral terbesar di Suku Dayak Kalteng.
Meski memiliki maksud sama dengan Tiwah, namun prosesi ritual Mantat Tu’mate justru berbeda.
Baca juga: Beda Makna Laluhan Dulu dan Sekarang, Tradisi Pengantar Tiwah Khas Dayak Kalteng
Baca juga: Makna Ritual Nyadiri, Upacara Membuang Arti Mimpi Sial Bagi Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah
Bagi masyarakat Dayak, upacara Mantat Tu' mate bukan bermakna dukacita.
Mantat Tu’mate justru memiliki makna berbeda, yakni pesta memperingati orang yang meninggal telah lepas dari kehidupan duniawi dan berjalan ke kehidupan lain dengan diiringi doa-doa.
Dalam prosesinya, ritual Mantat Tu’mate dilakukan selama tujuh hari berturut-turut.
Upacara tersebut diiringi alunan musik dan tarian sebelum jenazah dikebumikan.
Salah satu prosesi dari upacara Mantat Tu’mate ada Mandaria’i.
Dalam prosesi Mandaria’i ini, keluarga dan para pengantar menari memutari peti jenazah dari luar hingga masuk ke dalam rumah.
Memutari peti jenazah tersebut dilakukan sebanyak tiga kali dengan diiringi tetabuhan dan bunyi khusus.
Terlebih lagi, tarian Mandaria’i ini juga diikuti doa-doa.
Bahkan orang yang melakukan ritual Mandaria’i ini juga menebas kayu.
Kayu tersebut nantinya akan dibuang jauh untuk membuang sial dan membuang semua perasaan mendiang di dunia.
Setelah upacara selesai, barulah jenazah tersebut akan dimakamkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/dayak-mantat.jpg)