Berita Palangkaraya

Rencana Kenaikan BBM Bagi Pengamat UPR, Tidak Akan Mempengaruhi Pemulihan Ekonomi

Rencana Kenaikan BBM Bagi Pengamat UPR Fitria Husnatarina tidak akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi yang saat ini terus membaik.

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com/ Ghorby Sugianto
Pengamat ekonomi, Fitria Husnatarina Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangkaraya, mengatakan rencana Kenaikan BBM bagi pengamat UPR tersebut tidak akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi yang saat ini terus membaik. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA -Rencana Kenaikan BBM Bagi Pengamat UPR Fitria Husnatarina tidak akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi yang saat ini terus berporses.

Rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah mendapat tanggapan dari beberapa pihak.

Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, belum lama tadi menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo akan mengumumkan wacana kenaikan harga BBM bersubsidi, yaitu Pertalite dan Solar. 

Sinyal kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tersebut ditanggapi pemerhati sosial. Pengamat Ekonomi dari Universitas Palangkaraya, Fitria Husnatarina Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, berkomentar terkait rencana tersebut.

Baca juga: PMII Kalteng Tolak Kenaikan BBM Subsidi, Siap Turun ke Jalan Kawal Kepentingan Rakyat

Baca juga: ALFI Gelar Aksi Damai di DPRD Kotim, Mendesak Aparat Agar Menertibkan Pengecer BBM Jenis Solar

Baca juga: Pembelian BBM Subsidi via Aplikasi Mypertamina, Warga Palangkaraya Menanggapinya Pro & Kontra

Fitria Husnatarina mengatakan, jika BBM subsidi bakal resmi naik, pemulihan ekonomi Indonesia demikian juga di Kalteng, tetap berjalan serta mitigasi risiko tetap beriringan juga. 

"Saya melihat kebijakan mitigasi risiko pasar dan proses pemulihan ekonomi yang diharapkan terus membaik tidak akan menjadi terkendala karena kenaikan BBM," kata Fitria Husnatarina, Kamis (25/8/2022). 

Kendati demikian, dia tidak memungkiri kenaikan BBM selalu menjadi barometer kenaikan kebutuhan pokok lainnya.

Serta menjadi lumrah kalau semua aktivitas perekonomian, mulai dari produksi sampai dengan distribusi (rantai pasok) barang dan jasa menjadi high cost activity (aktivitas berbiaya mahal). 

"Semua pelaku pasar baik penjual maupun pembeli (masyarakat) akan merasakan dampaknya terutama level masyarakat," tambahnya. 

Tetapi menjadi hal yang penting untuk dicermati adalah latar belakang dari kebijakan kenaikan harga BBM tersebut,  saat dieksekusi pada saat proses pemulihan ekonomi sedang mulai merangkak.

"Tentunya pemerintah sangat mempertimbangkan dengan cermat berbagai akibat yang potensial akan muncul dari kebijakan ini," tegas Fitria Husnatarina. 

Dengan begitu, stimulus kompensasi yang ditawarkan pemerintah akan menarik dinanti-nati, serta seperti apa perhatiannya baik secara nasional dan daerah apakah masih dapat terkendali. (*)

 

 

 

 

--

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved