Kisah Hidup
NEWS VIDEO, Kisah Asikin Sopir Angkot, Pernah Sehari Tak Ada Penumpang Hingga Terpaksa Puasa
Suka duka yang dirasakan Asikin (67) sopir angkot di Kota Palangkaraya yang saat ini mulai ditinggalkan dan sepi penumpang
Penulis: Lidia Wati | Editor: Sri Mariati
TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Asikin (67) seorang pria berprofesi sebagai sopir angkot, yang sehari-sehari mangkal di Terminal Tipe A W A Gara Palangkaraya menuturkan suka duka menjadi sopir angkot.
"Pernah satu hari tidak ada penumpang, sedih rasanya, maka tanggungan menghidupi keluarga terus ada," ucap Asikin memulai kisahnya, Rabu (2/2/2022).
Dalam sehari pria yang memiliki 5 orang anak ini menghasilkan sehari Rp 100 ribu per harinya, bahkan paling besar dia menceritakan pernah mendapat uang Rp 200 ribu dari hasil menjalankan angkotnya.
Beruntung dirinya saat ini sudah miliki angkot sendiri, walaupun ada beberapa teman seprofesinya masih setor hasil menarik angkot kepada juragannya.
Baca juga: Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Kini Kota Palangkaraya Kembali Masuk Zona Kuning
Menurutnya, penghasilan sopir angkot saat ini sepi, karena masyarakat lebih memilih transportasi online diera digital sekarang.
"Di sini per orangnya Rp 25 ribu untuk ke kota, tapi langsung kami antar ke rumahnya, tidak ada yang diantar di pinggir jalan," katanya.
Tarif yang relatif mahal tersebut, ia menilai karena pembatasan penumpang di terminal maksimal 5 orang.
Tidak seperti trayek angkot umumnya, masyarakat biasanya membayar Rp 3 ribu, namun penumpang diturunkan di pinggir jalan.
"Ada beberapa yang mengeluh, karena tarifnya segitu, tapi kami beri penjelasan," tambahnya.
Baca juga: Wali Kota Palangkaraya Fairid Naparin Terima Audiensi Pengurus PGRI, Ini yang Dibahas
Asikin, membanting tulang dari pagi sampai malam untuk menghidupi keluarganya, tak jarang ia terpaksa berpuasa tak makan, dan hanya makan 2 kali sehari.
Saat wawancarai Tribunkalteng.com, Asikin mengaku belum makan karena belum mendapatkan penumpang malam itu, menunggu penumpang yang turun dari Bus Jurusan Lamandau Kota Palangkaraya.
Sementara tanggungannya masih cukup banyak sehingga harus bekerja hingga malam hari.
Terlebih anaknya ada dua orang yang masih duduk di bangku sekolah dan membutuhkan biaya yang cukup besar.
"Anak sekolah 2 orang, yang lainnya sudah lulus, rata-rata pengeluaran sebulan 3 juta, untuk bayar SPP anak dan kebutuhan sehari," jelasnya.
Baca juga: Menjelang Tahun Baru Imlek Kue Keranjang Mulai Diburu Pembeli di Kota Palangkaraya
Tambahnya, kalau tidak ada penumpang pria berasal dari Banjar ini rela berhutang dulu kepada tetangga atau saudara.
Dengan kondisi angkutan yang mulai tak diminati sekarang ini, dirinya tidak berani berharap kepada pemerintah akan kondisi transportasi saat ini bagaiman baik penataan dan solusinya.
Asikin hanya berharap selalu diberikan kesehatan agar tetap bisa bekerja diusia senjanya untuk menafkahi keluarganya.
Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Kota Palangka Raya, Alman P Pakpahan menanggapi persoalan angkot yang mulai sepi peminat.
Dirinya menjelaskan, jika saat ini masyarakat dimanjakan menggunakan transportasi online.
"Kita melakukan pembinaan kepada mereka, merekakan di bawah organda, dan sudah banyak yang tidak beroperasi," kata Alman kepada Tribunkalteng.com.
Baca juga: Pedagang Seragam Sekolah Laris Manis Saat PTM Kota Palangkaraya Kembali Dilaksanakan
Dia mengimbau kepada para pelaku transportasi agar menguji KIR, terhadap kendaraannya agar keamanan dan kenyamanan masyarakat terjamin saat menggunakan transportasi.
Menurutnya uji KIR kendaraan transportasi tidaklah rumit dan harganya juga murah tergantung jenis kendaraan.
"Ini tugas bersama, semua stakeholder yang punya tugas itu, tidak hanya Dinas Perhubungan, dalam menyediakan transportasi yang murah, aman dan nyaman," tambahnya.
Alman Pakpahan menilai, saat ini ada sejumlah transportasi online yang bersifat setengah resmi, karena tidak ada izin trayeknya dan tidak ada pemasukan khas daerah melalui transportasi tersebut.
"Saya mengimbau kepada masyarakat agar menggunakan transportasi yang resmi," tutupnya. (*)