Berita Barito Selatan

Kisah Mahasiswa STAI Maarif Buntok Mengayuh Sepeda Sejauh 48 Km demi Tuntut Ilmu Perkuliahan

Muhammad Farid Solihin mahasiswa di STAI Maarif Buntok, Barsel, rela tempuh perjalanan jarak 48 kilometer untuk berangkat kuliah memakai sepeda

Penulis: Muhammad Lamsi | Editor: Sri Mariati
ISTIMEWA
Muhammad Farid Solihin Mahasiswa STAI Maarif Buntok Kabupaten Barito Selatan, yang menggunakan sepeda untuk kuliah dengan jarak 48 Kilometer, Senin (27/12/2021). 

TRIBUNKALTENG.COM, BUNTOK – Tuntutlah ilmu setinggi langit, mungkin itu peribahasa yang cocok untuk sosok seorang mahasiswa asal Buntok, Barito Selatan ini.

Dia adalah Muhammad Farid Solihin adalah mahasiswa di STAI Maarif Buntok, Barito Selatan.

Dengan semangat dan kegigihan, dirinya rela menempuh perjalanan jarak kurang lebih 48 kilometer untuk pergi berangkat kuliah menggunakan sepeda.

Kisah Muhammad Farid Solihin Ini terungkap ketika ia bercerita pada saat mengikuti Kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Barito Selatan.

Saat dikonfirmasi langsung oleh TribunKalteng.com, Muhammad Farid Solihin membenarkan hal tersebut.

Baca juga: Tiga Warga Buntok Kabupaten Barsel Meninggal Dunia Diduga Usai Tenggak Miras Oplosan

Baca juga: Pilkada Kalteng, KPU Beri Santunan Badan Adhoc Barsel Yang Wafat Saat Pelaksanaan

"Benar bang saya kuliah naik sepeda dari Desa Tumbung Ulung, Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Barito Timur ke Buntok, Kabupaten Barito Selatan dengan jarak kurang lebih 48 Kilometer," ujarnya pada TribunKalteng.com, Senin (27/12/2021).

Ia mengaku untuk sampai ke kampusnya STAI Maarif Buntok menggunakan sepeda memerlukan waktu yang cukup lama.

"Dari desa sampai ke kampus sekitar 3 jam lebih, dan diperjalanan tidak berhenti mengayuh sepeda," jelas mahasiswa semester 3 ini.

Muhammad Farid Solihin menjelaskan, ia terpaksa bersepeda ke kampus karena tidak memiliki biaya untuk membeli kendaraan yang lebih layak untuk perjalanan jauh.

Baca juga: Pantauan Cuaca Jumat 5 November 2021, Kapuas, Pulpis, dan Barsel Waspada Petir dan Angin Kencang

"Ya mau bagaimana lagi, Kuliahnya kan cuma sabtu dan minggu saja jadi saya berangkat sebelum masuk kuliah dan pulang di hari minggu setelah mata kuliah selesai, dan itupun sepeda didapat dari pemberian orang desa," tambahnya.

"Sedangkan untuk malam hari itu saya tinggal di Masjid, jadi hari sabtu sehabis kuliah tidak langsung pulang karena hari minggunya ada jadwal kuliah lagi" jelasnya

Mahasiswa yang tinggal sendirian di Desa Tumbung Ulung ini mengaku biaya sehari-hari dan biaya kuliah didapatkan dari hasil kerjanya menjadi staf desa dengan gaji Rp 1 juta perbulannya.

Baca juga: Polres Barito Selatan Amankan 31 Sepeda Motor Balapan Liar Resahkan Warga

"Keluarga saya di Puruk Cahu, jadi hasil kerja sebagai staf di Desa Tumpung Ulung ini cukup untuk biaya sehari-hari dan untuk membayar biaya kuliah," tandasnya.

Ketua Pjs PMII Kalteng Ahmad Fakhri Hasan, mengungkapkan bahwa ia merasa takjub zaman sekarang masih ada mahasiswa dan peserta Mapaba yang rela menempuh jarak 48 KM menggunakan sepeda.

"Saya juga berharap Farid ini bisa menjadi contoh bagi kita semua dalam bersemangat menuntut ilmu, serta peserta-peserta yang mengikuti Mapaba PMII di Barito Selatan ini agar menjadi kader militan dan selalu semangat dan aktif dalam perkuliahan serta bersemangat mengembangkan diri dan organisasi" pungkasnya.(*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved