Isu Komunis
Soal Isu Komunis di TNI dan Patung di Museum Kostrad, Panglima TNI Tidak Mau Berpolemik
Di akhir bulan September 2021, isu bangkitnya PKI kembali mencuat, kali ini tentang menyusupnya komunis ke TNI.
TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Di akhir bulan September 2021, isu bangkitnya PKI (Partai Komunis Indonesia) kembali mencuat, kali ini tentang menyusupnya komunis ke TNI.
Terlebih juga beredar kabar terjadinya pembongkaran sejumlah patung tokoh militer di Museum Dharma Bhakti Kostrad, Jakarta.
Menanggapi isu menyusupnya komunis ke TNI yang dilontarkan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menegaskan dirinya enggan berpolemik.
Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, pernyataan Gatot Nurmantyo hanya bagian nasihat senior bagi prajurit aktif TNI untuk senantiasa waspada agar sejarah kelam tidak kembali terjadi.
Baca juga: Panglima TNI Marah 2 Prajurit TNI AU Lakukan Aksi Kekerasan ke Warga Papua: Copot Danlanud Merauke!
Baca juga: Sholawat Badar, Dibikin Ulama Indonesia saat Menghadapi Kekejaman Kelompok Komunis, Ini Liriknya
"TNI selalu memedomani bahwa faktor mental dan ideologi merupakan sesuatu yang vital. Untuk itu pengawasan intensif baik terhadap radikal kiri, radikal kanan, maupun radikal lainnya secara eksternal dan internal selalu menjadi agenda utama," kata Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto kepada pers, Senin (27/9/2021).
Dia menegaskan tidak mau berpolemik terkait hal tersebut karena isu tersebut tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
"Saya tidak mau berpolemik terkait hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Tidak bisa suatu pernyataan didasarkan hanya kepada keberadaan patung di suatu tempat dan sebenarnya masalah ini sudah diklarifikasi oleh institusi terkait," kata Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.
Sebelumnya Kostrad mengklarifikasi pemberitaan dalam diskusi bertajuk “TNI Vs PKI” yang digelar pada Minggu (26/9) malam.
Dalam keterangan tertulis Kepala Penerangan Kostrad Kolonel Inf Haryantana disebutkan dalam diskusi yang digelar secara daring tersebut diputar sebuah klip video pendek yang memperlihatkan Museum Dharma Bhakti di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Museum itu disebut berada di bekas ruang kerja Panglima Kostrad (Pangkostrad) Mayjen Soeharto ketika peristiwa G30S/PKI terjadi.
Di dalam museum itu juga disebut tadinya terdapat diorama yang menggambarkan suasana di pagi hari, 1 Oktober 1965, beberapa jam setelah enam Jenderal dan seorang perwira muda TNI AD diculik PKI yang ada di tubuh pasukan kawal pribadi presiden, Cakrabirawa.
Adegan yang digambarkan itu disebut merupakan saat Mayjen Soeharto menerima laporan dari Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Sementara Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution yang selamat dari upaya penculikan PKI beberapa jam sebelumnya juga disebut duduk tidak jauh dari Soeharto dan Sarwo Edhie.
Dalam ruang kerja Soeharto juga disebutkan ada patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan Nasution yang menggambarkan saat kritis (setelah penculikan enam Jenderal TNI AD) dan rencana menyelamatkan negara dari pengkhianatan PKI, sekaligus peran utama Panglima Angkatan Darat, Pangkostrad, dan Resimen Parako yang kini menjadi Kopassus.
Oleh karena itu Haryantana menyatakan bahwa tidak benar Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung Seoharto, Sarwo Edhie, dan Nasution yang ada dalam ruang kerja Soeharto di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad.