Adat Dayak Kalimantan

Sape, Alat Musik Tradisional Adat Dayak Kalimantan yang Bisa Membikin Merinding Pendengarnya

Dentingan suara sape membuat menyentuh perasaan hingga membuat orang yang mendengarnya merinding

Tayang:
Editor: Dwi Sudarlan
tribunnews/tribun pontianak
Seorang perempuan memainkan Sape, alat musik tradisional Adat Dayak Kalimantan. Dentingan suara Sape ini bisa membikin merinding pendengarnya 

Sedangkan jika dimainkan saat malam hari, biasanya akan menghasilkan irama yang bernada sendu, syahdu, atau sedih.

Alat musik ini mampu membuat orang yang mendengarnya merinding hingga menyentuh tulang atau perasaan mereka.

Saat bunyi petikan sape terdengar dalam pelaksanaan upacara adat, seluruh orang akan terdiam, kemudian terdengar sayup-sayup lantunan doa atau mantra yang dibacakan bersama-sama.

Dalam suasana ini, tak jarang di antara mereka ada yang kerasukan roh halus atau roh leluhur.

Sape terbuat dari bahan kayu pilihan dan berkualitas baik seperti kayu pelantan, kayu adau, kayu marang, kayu tabalok, atau sejenisnya.

Jenis-jenis kayu ini dipilih karena kuat, tidak mudah pecah, keras, tahan lama, dan tidak mudah rusak atau dimakan binatang.

Semakin keras dan banyak urat daging kayunya, maka bunyi yang dihasilkan akan semakin keras dan semakin baik.

Sape, alat musik tradisional Suku Dayak, yang menyerupai gitar
Sape, alat musik tradisional Adat Dayak, yang menyerupai gitar (pesonaindonesia.kompas.com)

Konon, sape diciptakan oleh seorang pemuda yang di sebuah pulau akibat perahu atau sampan yang ditumpanginya tenggelam.

Sendirian di pulau, pemuda itu mendengar suara musik yang disinyalir berasal dari dasar sungai.

Dari situ dia kemudian membuat alat musik dari kayu untuk menghasilkan bunyi serupa yang dia dengar. 

Sesuai dengan mitologinya, bentuk sape juga menyerupai perahu atau sampan.

Dan, biasanya sape diperindah dengan ukiran motif Dayak seperti taring atau kepala burung.

Pada Suku Dayak Kenyah dan Dayak Kenyaan, terdapat sastra lisan turunan bernama 'Tekuak Lawe'.

Di sana terdapat kalimat sape benutah tulaang to’awah" yang makna filosofisnya berarti sape mampu meremukkan tulang-tulang hantu yang gentayangan.

Ungkapan ini seakan menyatakan dentingan suara sape membuat menyentuh perasaan hingga membuat orang yang mendengarnya merinding.

Kini, sape juga kerap dimainkan bersama-sama dengan alat musik modern. (*)

Artikel ini telah tayang di kompas.com

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved