Breaking News:

Pengembangan Vaksin Nusantara

Kementerian Kesehatan Mengaku Belum Dapat Laporan Uji Praklinis Vaksin Nusantara

Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Andani Eka Putra mengatakan Kemenkes belum mendapatkan hasil uji praklinis Vaksin Nusantara.

Pixabay
Ilustrasi divaksin.Kementerian Kesehatan Mengaku Belum Dapat Laporan Uji Praklinis Vaksin Nusantara 

TRIBUNKALTENG.COM - Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Andani Eka Putra mengatakan Kemenkes belum mendapatkan hasil uji praklinis Vaksin Nusantara.

Menurutnya, hasil uji praklinis tersebut seharusnya didapatkan terlebih dahulu sebelum uji klinis tahap pertama dan tahap kedua.

"Bagaimana efektivitas jeleknya kita belum biaa nilai karena saya belum dapat uji pra klinisnya," kata Andani dalam diskusi daring, Sabtu (17/4/2021).

Baca juga: MAN Kapuas Gelar Pendidikan Karakter Secara Daring, Isi Aktivitas Peserta Didik Saat Ramadan

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Palangkaraya Minggu, 18 April 2021, Lengkap Ada Bacaan Niat Puasa

"Sebenarnya kita perlu uji pra klinis dulu bagaimana hasilnya baru kita masuk ke uji klinis fase satu, fase dua dan seterusnya," ujar dia.

Andani menjelaskan, Vaksin Nusantara menargetkan pada sel dendritik atau sel guru yang akan memproduksi imun.

Meski berpolemik, Vaksin Nusantara sudah disuntikkan Mantan Menkes Terawan ke Aburizal Bakrie, sementara pasangan Anang-Ashanty diambil sampel darahnya untuk juga disuntik Vaksin Nusantara
Meski berpolemik, Vaksin Nusantara sudah disuntikkan Mantan Menkes Terawan ke Aburizal Bakrie, sementara pasangan Anang-Ashanty diambil sampel darahnya untuk juga disuntik Vaksin Nusantara (kolase instagram/dok tribunnews)

Ia melanjutkan, konsep dari vaksin itu adalah membuat sel pengingat sehingga pada waktu infeksi virus Covid-19 masuk respons imun lebih kuat dan cepat.

"Sehingga dipresentasikan kepada sel T yang pada akhirnya akan membentuk sel memori. Uniknya pada vaksin dendritik ini darah kita diambil kemudian dipecahkan sel dendritiknya," ucapnya.

Andani menambahkan pengunaan sel dendritik dalam Vaksin Nusantara membutuhkan standar mutu yang harus dijaga ketat.

Berbeda dengan Vaksin Nusantara, kata dia, vaksin corona lain menggunakan virus yang sudah dimatikan lalu diinjeksi ke dalam tubuh untuk mendapatkan imunitas.

"Dilemanya apa, harus ada standar good manufacturing practice, processing bahannya rutin tiap hari, tiap orang diproses sendiri. Artinya standar mutunya harus betul- betul dijaga sangat ketat," ucap dia.

Halaman
12
Editor: Anjar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved