Awas Badai Siklon Seroja, NTT Sudah Jadi Korban, BMKG: Dampaknya Lebih Besar dari Siklon Cempaka

Badai Siklon Seroja menyebabkab cuaca ekstrem di NTT hingga terjadi banjir bandang, BMKG sebut dampaknya lebig besar dari Badai Cempaka

Editor: Dwi Sudarlan
BMKG
Bibit siklon 99S atau siklon seroja 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Cuaca ekstrem akibat badai Siklon Seroja menjadi salah penyebab banjir bandang di NTT yang menewaskan puluhan orang, berikut penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang ancaman badai yang dampaknya lebih besar dari Siklon Cempaka ini.   

Dalam penjelasannya itu, BMKG juga mengungkapkan dampak dan potensi cuaca ekstrem yang bisa ditimbulkan oleh Siklon Seroja tersebut.

Sebelumnya, BMKG memperkirakan bahwa intensitas Bibit Siklon Tropis 99S atau yang disebut dengan nama Siklon Seroja akan menguat pada dini hari hingga pagi hari, atau berkisar 6-12 jam, yang dimulai sekitar 01.00 WIB pada Senin 5 April 2021 ini

Siklon Seroja terdeteksi berada di sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT) bergeser ke arah barat, sisi selatan, bahkan bisa meluas sampai Bali bila dilihat dari arah pergerakannya.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa kecepatan gerak dari Siklon Seroja tergolong lambat.

Namun demikian, bibit Siklon Tropis 99S tersebut memiliki pengaruh yang lama.

Baca juga: Kronologi Komandan Brimob Meninggal Usai Divaksin Covid-19, Sesak Napas, Demam dan 2 Kali Masuk RS

Baca juga: 2 Pekan Misteri Potongan Kaki dalam Plastik Kuning di Japos Belum Terungkap, Mutilasi atau Amputasi?

Baca juga: Aksi Penjual Cheat atau Kode Curang Game Online Dibongkar Polisi, Raih Untung Rp 1,1 Triliun

"Tetapi kecepatan pusarannya, angin pada pusarannya itu sampai 85 km per jam. Jadi bayangkan pusaran itu sangat cepat tapi dia meninggalkan Indonesianya itu lambat, sehingga dampaknya akan sangat terasa dan tidak pergi-pergi. Inilah yang perlu diwaspadai," jelasnya dalam Konferensi Pers Virtual Terkait Lahirnya Bibit Siklon Tropis di Wilayah Indonesia, Minggu (4/4/2021) malam.

Ketika disinggung mengenai dampaknya akan meluas ke wilayah Jabodetabek, Dwikorita mengatakan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi di Jabodetabek bukanlah pengaruh dari Siklon Seroja, melainkan bibit siklon lain yang berada di selatan Pulau Jawa.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan karakteristik Siklon Seroja dan Siklon Cempaka yang sempat melanda Indonesia beberapa waktu lalu.

"Siklon Cempaka hampir sama dengan Siklon Seroja, yang perlu diwaspadai posisinya, Bibit Siklon Tropis 99S dekat dengan Pulau Rote dan kecepatan yang lambat dan pusaran yang tinggi," bebernya.

Mengenai dampak yang ditimbulkan Siklon Seroja apakah sama dengan Siklon Cempaka, Fachri memprediksi keduanya berbeda.

"Perkirakannya beda dengan Cempaka. Seroja dampaknya lebih kuat dibanding Cempaka," ujarnya.

Mengenai kondisi cuaca ekstrem tersebut, BMKG telah melakukan koordinasi dengan BPBD di wilayah NTT beserta dengan pemerintah setempat.

Adapun peringatan dini cuaca terus dikeluarkan BMKG setempat melalui media sosial maupun media massa agar meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekitar.

Penyebab terjadinya bencana besar di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah bibit siklon tropis 99S.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved