Breaking News:

Bisnis dan Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Rp 14.915 per Dolar, Impor BBM Picu Defisit Rp 24 Triliun

Pada awal perdagangan, nilai tukar rupiah dibuka melemah pada posisi Rp 14.862 per dolar AS.

Editor: Mustain Khaitami
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi 

"Yang penting kita lihat tekanan terhadap rupiah dari neraca perdagangan mulai membaik, karena kita membandingkan dengan bulan lalu," ujar Dody.

Dody melihat penurunan defisit neraca perdagangan Agustus 2018 ini bisa berlanjut. Diprediksi pada kuartal III 2018 defisit akan terus menurun.

Defisit perdagangan September 2018 diharapkan turun signifikan karena penerapan bahan bakar biodiesel bercampur 20 persen minyak kelapa sawit (B20).

Kebijakan itu akan menurunkan impor minyak dan di sisi lain meningkatkan nilai ekspor kelapa sawit.

Bank Sentral memiliki kajian penerapan B20 di semua sektor akan menurunkan impor minyak mentah hingga 2,2 miliar dolar AS pada September hingga Desember 2018.

Selain itu B20 juga diharapkan menambah nilai ekspor sebesar 4-5 miliar dolar AS.

Dody melihat nilai ekspor juga ikut mendukung. Ia menyebut seharusnya dunia usaha bisa memanfaatkan nilai rupiah yang melemah dalam beberapa waktu terakhir untuk meningkatkan nilai penjualan ekspor.

"Kita masih punya upaya agar ekspor lebih tumbuh, khususnya manufaktur. Seharusnya depresiasi rupiah bisa menjadi daya dorong untuk lebih kompetitif dari sisi ekspor," ujarnya.

Migas masih besar

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan defisit neraca perdagangan sudah mulai turun, yang terutama disumbang surplus sektor nonmigas. Sedang defisit migas masih besar.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved