Sains

Air Panas di Bawah Samudra Arktik, Hamparan Salju di Kanada Mengkhawatirkan

Kondisi ini sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja para ilmuwan mengkhawatirkan pemanasan yang begitu cepat

Editor: Mustain Khaitami
intisari/bangka pos
Foto hanya ilustrasi 

TRIBUNKALTENG.COM — Hamparan salju yang begitu luas, Arktik, saat ini sedang dalam keadaan mengkhawatirkan.

Dari penelitian terbaru yang diterbitkan di Science Advances menemukan bukti adanya sekumpulan air panas di bawah Samudra Arktik yang mungkin menembus ke wilayah kutub dan mengancam es beku di atasnya.

“Kami mendokumentasikan pemanasan laut yang luar biasa di salah satu cekungan utama di Samudra Arktik, cekungan Kanada,” ujar ahli kelautan Mary-Louise Timmerman dari Universitas Yale.

Timmerman dan timnya meninjau kembali data suhu di Cekungan Kanada dari 30 tahun terakhir.

x
Ilustrasi hamparan salju (kompas.tv)

Baca: Sembunyi di Kandang Ayam, 2 Orang yang Serang Polisi Polda Jabar Ditembak Mati Densus 88

Baca: Laga Persiba Bantul Vs Persatu Tuban Ricuh, Wasit Terbirit-birit Dikejar Pemain

Baca: Ramalan Zodiak 4 September, Pisces: Fokus pada Tujuan Karir

Mereka menemukan bahwa selama 1987 hingga 2017, suhu air di bagian yang paling hangat telah meningkat menjadi dua kali lipat selama periode tersebut.

Kondisi ini sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja para ilmuwan mengkhawatirkan pemanasan yang begitu cepat pada bagian hangat di cekungan tersebut.

Menurut para peneliti, air hangat yang berada di bawah telah "mengarsipkan" panas karena pemanasan permukaan air laut Chukchi utara oleh matahari yang kemudian disalurkan ke cekungan Kanada.

Es laut yang berada di laut Chukchi meleleh oleh paparan sinar matahari yang kemudian tertiup oleh Beaufort Gyre, atau angin Arktik yang mendorong ke arah utara.

Air panas yang bergerak ke arah Arktik kemudian turun ke bawah lapisan yang lebih dingin di cekungan Kanada.

Air hangat yang berada di bawah permukaan inilah yang bisa menimbulkan ancaman.

x
Ilustrasi (Banka Pos)

Dengan jumlah yang ada, para peneliti memperingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi "bom waktu".

"Panas itu tidak akan hilang. (Panas) akan muncul ke permukaan dan akan berdampak pada es," ungkap John Toole dari Woods Hole Oceanographic Institution kepada CBC, yang dikutip oleh Kompas.com dari Science Alert,Jumat (31/08/2018).

Sampai saat ini, para peneliti berpendapat bahwa belum ada ancaman yang secara langsung dapat berdampak pada es Arktik.

Angin kencang yang mencampurkan lapisan air hangat dan dingin pun sampai saat ini belum memberikan dampak langsung.

"Masih harus dilihat bagaimana kelanjutan cairnya es laut akan secara mendasar mengubah struktur kolom air dan dinamika. Di tahun-tahun mendatang, kelebihan panas akan menimbulkan peningkatan panas ke atas dan menciptakan efek gabungan pada sistem dengan memperlambat pertumbuhan es laut musim dingin,” ujar penulis dalam makalah mereka.

x
Ilustrasi air panas bawah laut (Geomagz - ESDM)
Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved