Kabar Kalsel
VIDEO : Luar Biasa! Kakek 87 Tahun Ini Tetap Mengajar Meski Hanya Guru Honor
Dulu, Pak Isur terkenal dengan sepeda ontelnya. Setiap pagi dia datang ke sekolah dimana jadwalnya dia mengajar.
Penulis: Hanani | Editor: Mustain Khaitami
TRIBUNKALTENG.COM, BARABAI - Usianya sudah sepuh. Tapi, bukan berarti dia rapuh. Suriansyah (87), mestinya menikmati hari-hari pensiun sebagai guru.
Namun hal itu tak dilakukan pria yang akrab disapa Pak Isur ini. Di usia senjanya, Pak Isur justru tetap semangat mengajar. Bahkan, dia mengajar 37 jam dalam satu minggu untuk empat sekolah sebagai guru honor.
SMPN 1 Barabai, MTs Barabai, SMK Muda Kreatif dan SMK Ganesya. Bagi Pak Isur, menjadi pendidik adalah panggilan jiwa, yang akan tetap dia lakukan selama masih diberi fisik yang sehat.
Dulu, Pak Isur terkenal dengan sepeda ontelnya. Setiap pagi dia datang ke sekolah dimana jadwalnya dia mengajar. Tiap kali ke sekolah, Pak Isur selalu menjadi guru yang pertama hadir.
“Saya selalu datang ke sekolah lebih awal. Kadang sekolah baru buka, saya sudah sampai,”tutur kakek enam cucu ini, ditemui BPost di rumahnya, Jalan Bintara Nomor 21, samping Gedung Joeang Barabai.
Sejak sepeda ontelnya rusak dan tak bisa diperbaiki, Pak Isur sempat menerima hadiah dari salah seorang siswanya yang sudah alumni. Sebuah sepeda elektrik yang mesinnya digerakkan tenaga accu.
Namun beberapa tahun digunakan, rusak, dia kembali menggunakan sepeda , jenis polygon. Jarak dari rumahnya ke sekolah-sekolah tempatnya mengajar, cukup jauh. Namun, Pak Isur tak pernah mengeluh dan merasa lelah.
“Saya justru merasa gembira kalau mengajar. Kalau kelamaan di rumah, rasanya cepat lelah,” katanya.
Hal itu pula menjadi alasan dia tak mau pensiun menjadi pendidik. Sekali pun digaji mulai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan. Apalagi, sejak Januari 2017, SMA/SMK pengelolaannya diambil alih Pemprov.
Sejak itu pula, Pemprov Kalsel menaikkan honor guru SMA/SMK menjadi Rp 1 Juta per bulan. Bagi guru yang mengajar Kesenian (seni suara) dan Bahasa Inggris ini, tak digaji pun sebenarnya dia rela.
Asalkan tetap dibolehkan pemerintah menjadi guru aktif. Ini juga sebagai penebus kesalahan masa lalunya.
Lahir di Barabai, Hulu Sungai Tengahm, 29 April 1930, suami dari Hj Siti Zubaidah (73) ini mengawali profesi guru sejak tahun 1949 usai tamat SD. Sambil mengajar, Pak Isur mengikuti ujian Sekolah Guru Atas (SGA) di Banjarmasin, Mulawarman sampai 1958 dan saat itu statusnya sebagai guru PNS.
Namun, pada 1965, dia bergabung dengan Lepra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang bernaung di bawah partai terlarang, PKI. Sejak saat itu dia diberhentikan menjadi guru dan dilarang mengajar oleh pemerintah.
Pak Isur pun sempat mendekam di penjara selama 12 tahun, karena bergabung di organisasi tersebut. Menurutnya, saat itu dia sangat mencinta seni dan kesenian, sehingga tanpa mikir masalah politik dia ikut bergabung di sana.
“Sebenarnya, saya tak ingin lagi melihat masa lalu. Cukup hal itu menjadi pelajaran bagi saya, mengambil hikmah, sebagai perjalanan hidup. Makanya, untuk memperbaiki kesalahan itu, saya rela mengajar dengan gaji berapa pun. Bahkan tak digajih sekalipun. Saya pun tak pernah menuntut apa-apa dari pemerintah. Diberi kesempatan mengajar saja, saya sudah berterima kasih kepada pemerintah,” jelasnya.