Tongkang Bisa Jadi Solusi Kurangi Antrean Mobil

Berbagai solusi ditawarkan untuk mengurai antrean mobil di sekitar Jembatan Bajarum Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah

Editor: Edinayanti

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Berbagai solusi ditawarkan untuk mengurai antrean mobil di sekitar Jembatan Bajarum Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, salah satunya adalah penggunaan tongkang untuk mengangkut mobil.

"Pemerintah daerah bisa mengerahkan tongkang pengangkut hasil tambang untuk mengangkut mobil dalam jumlah banyak dari Pelabuhan Sampit menuju kawasan Cempaga sehingga antrean di sekitar penyeberangan Jembatan Bajarum bisa berkurang," kata Wakil Ketua DPRD Kotim di Sampit, Rabu.

Saat ini antrean panjang mobil yang hendak menyeberang di sekitar Jembatan Bajarum, masih terjadi. Pengemudi harus sabar karena terpaksa antre berjam-jam bahkan ada yang harus menginap karena menunggu antrean diseberangkan.

Jembatan Bajarum ditutup untuk lalu lintas mobil karena mengalami kerusakan serius setelah ditabrak tongkang bermuatan bijih besi pada 21 Desember 2013 lalu sehingga distribusi barang dan jasa melewati jembatan itu lumpuh.

Keberadaan Jembatan Bajarum sangat vital karena terletak di ruas jalan Trans Kalimantan Poros Selatan. Jembatan sepanjang 320 meter itu menjadi akses darat utama yang menghubungkan lima kabupaten di kawasan barat Kalteng dengan Kota Palangka Raya yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kalteng.

Penggunaan tongkang untuk mengangkut mobil penumpang dan angkutan barang dinilai sangat masuk akal dan bisa mengangkut banyak mobil. Apalagi, di kawasan perairan Cempaga ada beberapa pelabuhan yang bisa digunakan untuk sandar tongkang.

"Saya rasa hanya membutuhkan waktu empat sampai lima jam saja dibanding antre sehari semalam menunggu feri penyeberangan, tentu ini lebih cepat dan lebih efektif mengurangi antrean, setidaknya sementara sampai jembatan selesai diperbaiki dan bisa difungsikan," ujar Supriadi.

Tiga feri penyeberangan yang dioperasikan saat ini dinilai belum optimal sehingga antrean panjang masih terjadi dan terus dikeluhkan masyarakat karena harus menunggu lama untuk bisa menyeberang.

Masalah ini membutuhkan solusi cepat agar antrean tidak menumpuk. Apapun solusi yang bisa ditempuh maka harus segera dilaksanakan agar antrean panjang bisa berkurang sehingga roda perekonomian kembali normal.

"Saya menyayangkan sikap lamban dari pemkab dalam mencarikan solusi dan terkesaan hanya pasrah dengan daya angkut feri yang terbatas itu. Masyarakat menunggu gerakan cepat pemerintah daerah menangani masalah ini," ucap Supriadi.

Wakil Bupati Kotim, HM Taufiq Mukri sebelumnya telah menginformasikan bahwa perbaikan jembatan diperkirakan akan selesai pada 22 Januari mendatang. Selanjutnya, jembatan kembali dibuka jika dinyatakan aman setelah melalui uji kekuatan dengan dilintasi kendaraan berat.

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved