Warga Keluhkan Antrean Panjang di Penyeberangan Bajarum

Setelah terbantu dengan keberadaan feri penyeberangan di sekitar Jembatan Bajarum Kabupaten Kotawaringin Timur,

Editor: Edinayanti

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Setelah terbantu dengan keberadaan feri penyeberangan di sekitar Jembatan Bajarum Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kini masyarakat kembali mengeluhkan lamanya antrean untuk menyeberang.

"Paling cepat itu satu jam. Rata-rata dua bahkan bisa sampai tiga jam saat antrean panjang. Setelah menyeberang, feri itu kan memuat mobil yang di seberang sungai lagi, makanya kita yang di sini harus menunggu lama," kata Imran, salah seorang warga Sampit, Jumat.

Seperti diketahui. lalu lintas kendaraan roda empat di ruas jalan Trans Kalimantan Poros Selatan sempat terhenti setelah Jembatan Bajarum ditutup akibat ditabrak tongkang bermuatan bijih besi pada 21 Desember lalu.

Lalu lintas kembali berjalan setelah pemerintah daerah mendatangkan satu feri penyeberangan untuk mengangkut mobil yang mulai dioperasikan pada 25 Desember atau saat Natal lalu.

Meski arus lalu lintas kembali berjalan, namun kini masyarakat masih mengeluhkan karena antrean sering terjadi sehingga pengendara mobil yang hendak menyeberang Sungai Mentaya harus menunggu hingga berjam-jam.

"Kami meminta feri penyeberangannya ditambah satu lagi sehingga masyarakat tidak harus antre sampai berjam-jam. Kita sebagai masyarakat sudah berterima kasih sudah disediakan feri penyeberangan, tapi kalau boleh tolong ditambah satu feri lagi," pinta Mulyono, warga lainnya menimpali.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kotim, Rustam Fuadi mengatakan, feri penyeberangan itu mulai dioperasikan sejak pukul 06.00 pagi agar bisa melayani masyarakat sejak pagi.

Namun, Rustam belum berani memastikan terkait permintaan masyarakat agar ada penambahan satu unit feri lagi untuk mempercepat mengurangi antrean mobil yang hendak menyeberang setiap harinya.

Untuk menyeberang menggunakan feri tersebut, masyarakat tidak dipungut biaya alias digratiskan. Sedangkan untuk kendaraan roda dua diperbolehkan melintas di atas jembatan namun harus bergantian untuk menghindari menumpuknya beban di atas jembatan tersebut.

Kerasnya tabrakan tongkang bermuatan bijih besi pekan lalu, membuat bentang jembatan bergeser cukup lebar. Untuk memperbaikinya, diperkirakan membutuhkan waktu antara enam bulan hingga satu tahun.

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved