Berita Kalteng

Penjelasan BPS Kalteng Soal Kondisi Pasokan Daging, Impor Sapi Dari Australia

Ketergantungan Kalimantan Tengah terhadap pasokan sapi hidup dari luar daerah, terutama dari Australia.

Tribunkalteng.com/Muhammad Iqbal Zulkarnain
PRESS RELEASE - Statistisi Ahli Madya BPS Kalimantan Tengah, M Taufiqurrahman saat menjawab pertanyaan di Kantor BPS Kalteng, Senin (5/1/2026). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA — Ketergantungan Kalimantan Tengah terhadap pasokan sapi hidup dari luar daerah, terutama dari Australia, masih menjadi faktor penting dalam pemenuhan kebutuhan daging di wilayah ini.

Statistisi Ahli Madya BPS Kalimantan Tengah, M Taufiqurrahman menjelaskan, impor sapi terjadi pada bulan September 2025 melalui Pelabuhan Bumiharjo, Kumai. 

Baca juga: Senyuman Wali Kota Fairid Naparin Sambut Kemenhaj Palangka Raya, Soal Hibah Tanah Kantor PLHUT

“Diimpor oleh PT Sulung Ranch melalui pelabuhan Pelabuhan Bumiharjo, Kumai dari Australia pada 19–21 September. Sebanyak 1901 ekor sapi dan di bulan setelahnya juga gak ada,” ujarnya, Senin (5/1/2026). 

Ia menambahkan, impor ini diduga sebagai persiapan menghadapi Idul Adha, ketika kebutuhan daging meningkat signifikan. 

“Memang kebutuhan daging hidup di bulan September sebenarnya rendah, tetapi jumlah sapi yang diimpor cukup besar untuk memastikan pasokan tetap tersedia,” jelasnya.

Menurutnya, meski Kalimantan Tengah mendorong swasembada daging, wilayah tertentu seperti Kotawaringin Barat masih mengandalkan pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan usaha peternakan.

“Memang kebutuhannya adalah untuk pembukaannya. Untuk bisa memenuhi pasukan daging dalam negeri. Sehingga bisa swasembada daging,” katanya.

Secara umum, data BPS Kalteng menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, inflasi di sektor pangan masih terkendali. 

Sebagai informasi, kini pemerintah tengah mengembangkan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) dengan memanfaatkan jutaan hektare perkebunan sawit, termasuk yang tersebar di Kalimantan Tengah.

Sebelumnya, Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari mengatakan, integrasi sapi dengan perkebunan sawit dinilai sebagai solusi strategis untuk meningkatkan populasi ternak nasional.

“Untuk memelihara sapi tentu dibutuhkan lahan. Sementara lahan yang sangat luas dan tersedia saat ini berasal dari perkebunan kelapa sawit, luasnya mencapai sekitar 16,3 juta hektare,” ujar Tri Melasari, Selasa (16/12/2025) lalu.

Selain ketersediaan lahan, ia menjelaskan limbah sawit juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. 

Limbah yang sebelumnya terbuang, kini bisa diolah untuk mendukung pengembangan peternakan sapi.

“Dengan integrasi ini, limbah sawit bisa dimanfaatkan untuk pakan, sementara keberadaan sapi di kebun sawit juga menghasilkan pupuk organik. Jadi ada manfaat timbal balik, sapi diuntungkan, sawit juga diuntungkan,” jelasnya.

Menurut Tri Melasari, program SISKA merupakan bagian dari upaya pemerintah menuju swasembada daging, mengingat saat ini konsumsi daging nasional masih bergantung pada impor hingga 52 persen.

Sumber: Tribun Kalteng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved