Iran vs Amerika

Dampak Perang Iran vs Amerika dan Kondisi di Teheran, PBB dan Greenpeace Beri Pernyataan

PBB memperingatkan hujan hitam setelah serangan Israel dan AS di Iran. Kemudian Greenpeace memperingatkan bencana imbas 85 kapal tanker.

Tayang:
Editor: Nia Kurniawan
Tribunnews.com/TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA
ESKALASI MENINGKAT - Perang antara Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran bukan sekadar adu kekuatan senjata. Konflik ini juga menjadi adu ketahanan logistik, ekonomi, dan tekad politik. PBB memperingatkan hujan hitam setelah serangan Israel dan AS di Iran. Kemudian Greenpeace memperingatkan bencana imbas 85 kapal tanker. 

“Serangan AS-Israel terhadap Iran dan serangan-serangan berikutnya oleh Iran terhadap negara-negara Teluk tetangga telah menunjukkan sekali lagi bahwa ketergantungan kita pada bahan bakar fosil merupakan ancaman konstan bagi perdamaian, keamanan, dan kemakmuran. Ketika harga minyak dan gas melonjak, raksasa bahan bakar fosil meraup lebih banyak keuntungan sementara masyarakat biasa terdampak oleh biaya yang lebih tinggi untuk pemanasan, listrik, transportasi, dan makanan. 

“Greenpeace menyerukan kepada semua pihak untuk meredakan ketegangan dan mengejar solusi damai dan diplomatik, serta kepada pemerintah di mana pun untuk segera beralih dari bahan bakar fosil ke sistem energi terbarukan terdistribusi di mana risiko konflik berkurang, bukan malah meningkat.”

“Dari Venezuela hingga Iran, kita telah melihat bagaimana keinginan Trump yang dinyatakan untuk mengendalikan sumber daya – terutama minyak dan gas – terwujud dalam kebijakan luar negeri yang penuh kekerasan. Dalam perang ilegal Trump dengan Iran, satu-satunya pemenang adalah perusahaan minyak dan gas.”

Investigasi yang dilakukan oleh Greenpeace Jerman telah menganalisis Selat Hormuz yang terblokir menggunakan data pergerakan kapal dan citra satelit, serta mensimulasikan potensi konsekuensi tumpahan minyak di Teluk Persia jika kapal tanker mengalami kerusakan. Saat ini, kapal tanker yang terjebak di Teluk Persia membawa setidaknya 21 miliar liter minyak.

“Simulasi Greenpeace menunjukkan bagaimana tumpahan minyak dapat menyebar jika kapal tanker yang terdampar rusak akibat serangan. Selat Hormuz dan perairan sekitarnya adalah rumah bagi terumbu karang yang masih alami, hutan bakau, dan padang lamun. Ini adalah bom waktu ekologis dan risiko besar yang akan semakin meningkatkan ketidakstabilan dan penderitaan manusia di wilayah tersebut.” 

(Tribunkalteng)

Sumber: Tribun Kalteng
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved