Iran vs Amerika

Update AS: Trump Serang Kapal Perang Iran, Upacara Khamenei dan Aksi Presiden Indonesia Prabowo

Iran vs Amerika, upacara duka Ayatollah Ali Khamenei, reaksi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan serangan kapal perang Donald Trump.

Tayang:
Editor: Nia Kurniawan
Tribunnews.com/istimewa via wartakota
PEMAKAMAN KHAMENEI -- Tangis ribuan warga pecah di jalan-jalan utama Teheran, Minggu (1/3/2026), ketika prosesi pemakaman.Iran vs Amerika, upacara duka Ayatollah Ali Khamenei, reaksi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan serangan kapal perang Donald Trump. 

TRIBUNKALTENG.COM - Berikut update kabar terbaru Iran vs Amerika, nasib upacara duka Ayatollah Ali Khamenei, reaksi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan serangan kapal perang Donald Trump.

Dikabarkan Iran telah menunda upacara berkabung publik yang direncanakan untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, beberapa hari setelah beliau tewas bersama beberapa anggota keluarganya dalam serangan udara gabungan AS-Israel.

Baca juga: Iran Vs Amerika Update: Isu Komandan IRGC Ditahan, Perang Udara Pertama AS-Israel

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah melaporkan bahwa penundaan tersebut disebabkan oleh tantangan logistik, termasuk permintaan dari orang-orang di berbagai provinsi yang ingin hadir, dilansir Tribunkalteng.com hari ini Rabu 4 Maret 2026.

Sementara itu, para analis menyatakan bahwa risiko keamanan juga menjadi pertimbangan.

Upacara tersebut awalnya dijadwalkan dimulai pukul 10 malam waktu setempat di Aula Doa Imam Khomeini di Teheran dan berlangsung selama tiga hari. Hojjatoleslam Mahmoudi, kepala Dewan Dakwah Islam Iran, sebelumnya telah mendesak warga untuk hadir dalam jumlah besar untuk memberikan penghormatan.

Namun, kekhawatiran keamanan membayangi acara tersebut. Dengan jutaan orang diperkirakan akan berduka, pihak berwenang menghadapi risiko potensi serangan lebih lanjut di tengah meningkatnya permusuhan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, meninggal pada tahun 1989, diperkirakan 10 juta orang menghadiri pemakamannya.

Khamenei, 86 tahun, telah menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Khomeini setelah revolusi 1979. 

Sebagai pemimpin tertinggi, ia memegang otoritas tertinggi atas angkatan bersenjata, peradilan, dan lembaga-lembaga negara utama, sekaligus menjabat sebagai otoritas keagamaan tertinggi di negara tersebut.

Perhatian kini telah beralih ke masalah suksesi. Ayatollah Ahmad Khatami, seorang ulama senior dan anggota Dewan Penjaga serta Majelis Pakar, mengatakan bahwa proses pemilihan pemimpin baru hampir selesai, tetapi mengakui bahwa negara tersebut masih berada dalam "situasi perang."

Berdasarkan konstitusi Iran, Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang bertanggung jawab untuk menunjuk pemimpin tertinggi melalui pemungutan suara mayoritas sederhana. 

Kandidat haruslah ahli hukum Islam senior dengan penilaian politik yang kuat, kemampuan administrasi, dan kredibilitas keagamaan. Di antara mereka yang secara luas dianggap sebagai kandidat terkemuka adalah putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel memperingatkan bahwa siapa pun pengganti yang melanjutkan kebijakan yang memusuhi Israel akan menghadapi ancaman pembunuhan.

Dalam pernyataan yang diunggah secara daring pada hari Rabu, ia mengatakan bahwa setiap pemimpin Iran di masa depan yang berupaya menghancurkan Israel atau mengancam Amerika Serikat dan sekutu regional akan dianggap sebagai target.

Presiden AS Donald Trump juga mengomentari secara terbuka kepemimpinan Iran di masa depan, dengan mengatakan bahwa "skenario terburuk" adalah munculnya tokoh lain yang menentang kepentingan AS.

Sumber: Tribun Kalteng
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved